Ojol yang Pakai Partisi Harus Perhatikan Batas Kecepatan

Kompas.com - 07/06/2020, 07:41 WIB
Pengemudi Ojek Online menggunakan partisipasi pembatas berbahan plastik untuk mengurangi kontak fisik dengan penumpang DOKUMEN PRIBADIPengemudi Ojek Online menggunakan partisipasi pembatas berbahan plastik untuk mengurangi kontak fisik dengan penumpang

JAKARTA, KOMPAS.com - Bersiap menyambut new normal, ojek online atau ojol diperbolehkan kembali mengangkut penumpang mulai 8 Juni 2020 di DKI Jakarta.

Beberapa protokol kesehatan sudah dipersiapkan, salah satunya adalah sekat partisi yang dipersiapkan oleh asosisasi ojol.

Meski demikian, ternyata ada hal yang harus diperhatikan ketika menggunakan partisi saat berkendara.

Training Director Safety Defensive Consultant, Sonny Susmana, mengatakan, safety dengan healthy ketika berkendara dalam kondisi saat ini, memang hal yang sangat dibutuhkan dan tidak bisa dipisahkan.

Baca juga: Mobil Bekas Banjir Rob Harganya Jadi Lebih Murah?

“Penggunaan partisi tersebut hanya untuk menyiasati physical distancing. Tetapi keselamatan dalam berkendara bisa terabaikan,” ujar Sony saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (06/06/2020)

Petugas menyemprot disinfektan kepada pengendara ojek online setelah pembagian masker di Jl. Letjen S. Parman, Jakarta Barat, Senin (4/5/2020). Provinsi DKI Jakarta memasuki pelaksanaan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang diperpanjang ke tahap kedua. Tujuan PSBB ini adalah untuk menekan penyebaran virus corona (Covid-19).KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Petugas menyemprot disinfektan kepada pengendara ojek online setelah pembagian masker di Jl. Letjen S. Parman, Jakarta Barat, Senin (4/5/2020). Provinsi DKI Jakarta memasuki pelaksanaan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang diperpanjang ke tahap kedua. Tujuan PSBB ini adalah untuk menekan penyebaran virus corona (Covid-19).

Sony menjelaskan, ketika motor bergerak dengan penyekat atau partisi, maka benda tersebut akan menangkap angin. Sehingga keseimbangan motor mudah goyang dan berpotensi bergeser sesuai arah angin.

“Di sini tugas driver sangat berat. Kecepatan efektif agar terhindar dari masalah tersebut adalah di bawah 20 Km per jam (Kpj). Pertanyaannya, apakah driver bisa konsisten dengan kecepatan tersebut?,” katanya.

Baca juga: Sirkuit Sentul Siapkan Protokol Kesehatan Balap Saat New Normal

Menurut Sony, kecil kemungkinan terjadi penularan karena driver dan penumpang tidak bertatap muka. Apalagi mereka sudah diwajibkan menaati protokol kesehatan dengan menggunakan masker, helm, sarung tangan, dan jaket.

Hal tersebut menurutnya, merupakan penerapan yang sudah cukup efektif dibanding harus menggunakan partisi pembatas.

“Sebab, dengan menggunakan penyekat, posisi driver lebih kaku dalam berkendara, sehingga kurang maksimal mengontrol keseimbangan motornya. Tentunya kondisi ini bisa berbahaya bagi pengemudi dan penumpang,” kata Sony.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X