Hadapi New Normal, Sistem Beli Tiket Bus di Terminal Bakal Dihapus

Kompas.com - 30/05/2020, 13:50 WIB
Sejumlah warga antre masuk bis antar provinsi untuk mudik lebih awal di Terminal Bus Pakupatan, Serang, Banten, Kamis (23/4/2020). Meski pemerintah melarang mudik lebaran tahun 2020, sejumlah warga tetap pulang ke kampung halamannya sebelum puasa dengan alasan sudah tidak ada pekerjaan meski nantinya harus menjalani isolasi mandiri. ANTARA FOTO/ASEP FATHULRAHMANSejumlah warga antre masuk bis antar provinsi untuk mudik lebih awal di Terminal Bus Pakupatan, Serang, Banten, Kamis (23/4/2020). Meski pemerintah melarang mudik lebaran tahun 2020, sejumlah warga tetap pulang ke kampung halamannya sebelum puasa dengan alasan sudah tidak ada pekerjaan meski nantinya harus menjalani isolasi mandiri.
|

JAKARTA, KOMPAS.com – Kementerian Perhubungan ( Kemenhub) telah menyiapkan sejumlah persiapan untuk menghadapi skema kehidupan baru atau new normal. Salah satunya dengan mengurangi layanan tatap muka dengan konsumen.

Direktur Lalu Lintas Jalan Ditjen Hubdat Kemenhub Sigit Irfansyah, mengatakan, sebagai langkah awal pihaknya bakal mendorong transaksi pembelian tiket secara daring.

“Jadi kalau dulu kita bicara angkutan umum kan susah sekali, semua orang ingin datang ke terminal, transaksi di terminal,” ujar Sigit, dalam konferensi virtual, belum lama ini.

Baca juga: Demi Efisiensi, Nissan Tutup Pabrik di Indonesia

Suasana ramai penumpang di Terminal Bus Kalideres, Jakarta Barat, Senin (23/12/2019)KOMPAS.com/ BONFILIO MAHENDRA WAHANAPUTRA LADJAR Suasana ramai penumpang di Terminal Bus Kalideres, Jakarta Barat, Senin (23/12/2019)

“Ke depan dengan kondisi ini mau tidak mau, kami dorong mempecepat dengan cashless, itu yang kami terapkan,” katanya.

Sigit mengatakan, kondisi ini secara langsung dapat mengurangi intensitas penyebaran virus corona di lingkungan angkutan darat.

“Dari segi pelayanan yang lain juga akan berubah, tidak ada lagi pelayanan face to face, fisik ketemu lagi, mungkin dengan bantuan aplikasi tertentu yang membantu cara kerja kami,” ucap Sigit.

Baca juga: Diskon Rp 100 Juta buat Toyota Fortuner Masih Ada

Sejumlah warga membawa barang bawaan menuju bis antar provinsi untuk mudik lebih awal di Terminal Bus Pakupatan, Serang, Banten, Kamis (23/4/2020). Meski pemerintah melarang mudik lebaran tahun 2020, sejumlah warga tetap pulang ke kampung halamannya sebelum puasa dengan alasan sudah tidak ada pekerjaan meski nantinya harus menjalani isolasi mandiri.ANTARA FOTO/ASEP FATHULRAHMAN Sejumlah warga membawa barang bawaan menuju bis antar provinsi untuk mudik lebih awal di Terminal Bus Pakupatan, Serang, Banten, Kamis (23/4/2020). Meski pemerintah melarang mudik lebaran tahun 2020, sejumlah warga tetap pulang ke kampung halamannya sebelum puasa dengan alasan sudah tidak ada pekerjaan meski nantinya harus menjalani isolasi mandiri.

Sebelumnya, Sigit juga sudah berencana untuk menaikkan harga tiket lantaran okupansi bus AKAP yang berkurang 50 persen saat new normal.

Cara ini dilakukan untuk memenuhi aturan berkendara selama pandemi, seperti mengharuskan physical distancing, memakai masker, dan sebagainya.

“Intinya kita kan harus menghitung tarif ekonomi, coba kita hitung ulang, bagaimana mengukurnya tadi, misal dari kapasitas yang kita kurangi,” tutur Sigit.

“Pasti akan disesuaikan dengan keadaan di lapangan, nanti akan keluar regulasi baru,” katanya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X