Kecelakaan Supercar, Jangan Samakan Menyetir Supercar dengan Mobil Biasa

Kompas.com - 03/05/2020, 15:24 WIB
McLaren MP4-12C kecelakaan pada Minggu (3/5/2020). KOMPAS.com/RulyMcLaren MP4-12C kecelakaan pada Minggu (3/5/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Baru saja terjadi kecelakaan mobil Supercar McLaren di ruas Tol Jagorawi mengarah ke Kota Bogor, Minggu (03/05/2020).

Bukan untuk pertama kalinya, belakangan ini beberapa kecelakaan yang kerap terjadi melibatkan mobil-mobil premium seperti supercar atau sport car.

Terkait hal ini, Training Direction The Real Driving Center, Marcell Kurniawan, mengatakan, hal tersebut seharusnya bisa dijadikan pelajaran untuk masyarakat.

Menurutnya, mengemudikan supercar atau sport car tidak bisa sembarangan, berbeda dengan mobil biasa.

“Stabilitas supercar memang lebih tinggi, karena rasio tinggi dan lebar kendaraan baik. Sehingga tidak akan limbung,” ujar Marcell saat dihubungi Kompas.com.

Baca juga: Lagi, Supercar Kecelakaan di Tol Jagorawi, Bodi Ringsek Parah

Marcell melanjutkan, apalagi di saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) seperti ini, jalan yang sepi jangan dijadikan pancingan untuk menginjak gas dan ngebut di jalan raya atau jalan tol.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Meskipun supercar memiliki perfoma yang tinggi namun bila di jalan umum tetap wajib untuk menaati batas kecepatan yang telah ditetapkan di jalan. Bukan berarti bila jalan kosong seperti sekarang, pengemudi jadi terpancing untuk ngebut,” kata Marcell.

Pebisnis sekaligus miliarder asal East Midlands, Inggris, Paul Bailey dipercaya menjadi konsumen pertama yang mengoleksi McLaren P1, Ferrari LaFerrari, dan Porsche 918 Spyder. Dailymail.co.uk Pebisnis sekaligus miliarder asal East Midlands, Inggris, Paul Bailey dipercaya menjadi konsumen pertama yang mengoleksi McLaren P1, Ferrari LaFerrari, dan Porsche 918 Spyder.

Jenis mobil supercar atau sport car memiliki respon tenaga spontan yang tinggi saat berakselerasi. Menurut Marcell, hal tersebut secara bersamaan juga bisa meningkatkan fictitious force (rasa badan tertarik ke belakang).

Baca juga: Sudah 4.668 Kendaraan Pemudik yang Ditolak Masuk Jawa Timur

“Pengemudi yang tidak terlatih merasakan force ini bisa kehilangan konsentrasi sesaat, dan ini bisa berbahaya, karena pengemudi bisa kehilangan kendali di saat kecepatan tinggi,” ujarnya.

Perlu diingat, semakin tinggi kecepatan saat mengemudi, maka akan semakin jauh jarak berhenti atau pengeremannya.

“Tidak hanya itu, pengemudi yang memacu kendaraannya pada kecepatan tinggi maka dampak yang dihasilkan saat tabrakan juga akan semakin parah,” kata Marcell.

Sebaiknya pengemudi selalu bijak dalalm berkendara untuk keselamatan diri dan orang lain. Ingat, meskipun menggunakan mobil supercar jalan raya bukanlah sirkuit.

Tidak ada yang perlu dibuktikan bahwa kendaraannya kencang, jadi pastikan kecepatan kendaraan disesuaikan dengan aturan dan rambu-rambu lalu lintas.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.