Ojek Online Punya Tarif Batas Atas dan Bawah, Apa Maksudnya ?

Kompas.com - 16/03/2020, 11:12 WIB
ilustrasi main hp ojol Kompas.com/Fathan Radityasaniilustrasi main hp ojol
Penulis Stanly Ravel
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Mulai Senin (16/3/2020), tarif ojek online ( ojol) di Jabodetabek atau Zona II resmi naik. Keputusan ini sudah disahkan oleh Kementerian Perhubungan ( Kemenhub) beberapa waktu lalu.

Tarif batas bawah (TBB) ojol menjadi Rp 2.250 per kilometer (km), atau mengalami kenaikan Rp 250 dari sebelumnya Rp 2.000 per km. Sedangkan untuk tarif batas atas (TBA), dari semula Rp 2.500 menjadi Rp 2.650 per km, naik Rp 150.

Namun tak sedikit dari pengendara ojol dan penumpang yang kurang memahami apa maksud pemerintah menerapkan metode penetapan tarif TBB dan TBA.

Baca juga: Hari Ini Tarif Ojek Online di Jabodetabek Resmi Naik

Nah, buat yang belum mengerti, adanya penetapan dasar tarif TBA dan TBB dilakukan oleh pemerintah untuk kenyamanan bagi penumpang juga sekaligus menciptakan iklim kompetisi yang adil dari pada aplikator penyedia jasa daring ini.

KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo Infografik: Tarif Baru Ojek Online per 16 Maret 2020

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiyadi, pernah menjelaskan bila penetapan TBB lebih untuk mencegah terjadinya persaingan tarif murah yang tidak sehat.

Sebab, dengan murahnya salah satu tarif aplikator akan membuat aplikator lain tak mampu bersain dan berimbas pada monopoli. Selain itu, hal ini juga untuk memberikan jaminan bagi pada driver mengenai ongkos biaya yang di dapatkan.

"Aplikator sering kali memberikan promo berupa diskon tarif yang cenderung jual rugi kepada para pengguna agar tetap diminati. Penerapan diskon terhadap tarif ojol di luar batas wajar atau jual rugi yang melewati tarif batas bawah, karena itu diberikan patokan tarif bawahnya," ucap Budi beberapa waktu lalu.

Pengemudi ojek online yang tergabung dalam komunitas Gerakan Aksi Roda Dua (Garda) melakukan aksi unjuk rasa ke Kantor Pusat Grab di Lippo Kuningan, Jakarta, Rabu (19/9/2018). Terdapat tiga tuntutan pada aksi tersebut yaitu adanya perjanjian kemitraan antara aplikator dan pengemudi ojekonlineyang adil dan transparan, aplikator menggunakan mekanisme tarif dasar berdasarkan rumus transportasi, bukansupply demandalgoritma, dan menghilangkan potongan komisi 20 persen bagi aplikator.MAULANA MAHARDHIKA Pengemudi ojek online yang tergabung dalam komunitas Gerakan Aksi Roda Dua (Garda) melakukan aksi unjuk rasa ke Kantor Pusat Grab di Lippo Kuningan, Jakarta, Rabu (19/9/2018). Terdapat tiga tuntutan pada aksi tersebut yaitu adanya perjanjian kemitraan antara aplikator dan pengemudi ojekonlineyang adil dan transparan, aplikator menggunakan mekanisme tarif dasar berdasarkan rumus transportasi, bukansupply demandalgoritma, dan menghilangkan potongan komisi 20 persen bagi aplikator.

"Kami tidak melarang diskon, tapi dilakukan dengan cara yang sehat, tidak bakar duit. Karena ini tidak baik bagi keberlangsungan usaha, tidak hanya pada bisnis ojol, tapi juga penyedia jasa transportasi konvensional yang juga melayani konsumen yang sama," kata dia.

Baca juga: Resmi, Jabodetabek Jadi Wilayah dengan Tarif Ojek Online Paling Mahal

Dengan adanya praktik jual rugi dengan diskon besar-besaran dikhawatirkan akan mematikan pelaku usaha lainnya. Contohnya, seperti penetapan tarif yang jauh lebih rendah sehingga terkesan paling murah bahkan melebihi batas bawah yang ditentukan.

Padahal, TBB sendiri merupakan tarif yang telah dihitung dengan memperhatikan biaya produksi yang dikeluarkan oleh pengemudi, penyusutan kendaraan, dan harta lainnya yang dipergunakan oleh pengemudi untuk memproduksi jasa, biaya komisi aplikasi serta memperhitungkan pendapatan pengemudi yang layak.

Pengemudi ojek online melakukan aksi unjuk rasa di depan Istana Negara, Jakarta Pusat, Selasa (27/3). Massa dari pengemudi ojek online menuntut pemerintah membantu untuk berdiskusi dengan perusahaan transportasi online agar merasionalkan tarif.KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG Pengemudi ojek online melakukan aksi unjuk rasa di depan Istana Negara, Jakarta Pusat, Selasa (27/3). Massa dari pengemudi ojek online menuntut pemerintah membantu untuk berdiskusi dengan perusahaan transportasi online agar merasionalkan tarif.

"Dalam jangka pendek, harga jual rugi memang menguntungkan bagi konsumen karena mereka menikmati harga barang atau jasa yang sangat rendah. Namun dalam jangka panjang, setelah para pesaing dalam bisnis ojek online tersingkir dari pasar, akan terjadi pemusatan pasar oleh satu pemain," kata Budi.

Sementara untuk penerapan TBA, lebih untuk ke perlindungkan ke konsumen yang menggunakan jasa ojol. Dengan adanya ketetapan TBA, aplikator tak bisa menaikan harga semena-mena ketika pengguna menggunakan jasa di jam-jam sibuk.

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X