Kompas.com - 10/03/2020, 14:12 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Korps Lalu Lintas Kepolisian Republik Indonesia (Korlantas Polri) mengatakan pihaknya akan menindak tegas pengusaha yang masih mengoperasikan kendaraan over dimension over load (ODOL).

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Pasal 277 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, ancaman bagi para pelaku yang menjalankan kendaraan tidak sesuai ketentuan bakal dikenakan pidana maksimum satu tahun penjara atau denda paling banyak Rp 24 juta.

"Ini yang ditindak nanti adalah pengusahanya, dipidana. Harapannya begitu," kata Kakorlantas Polri Irjen Pol Istiono di Jakarta, Senin (9/3/2020).

Baca juga: Cara Kemenhub Batasi Ruang Gerak Truk ODOL

PT Hutama Karya (Persero) tetap melakukan razia kendaraan over dimension over load (ODOL) meski peraturan bebas ODOL ini mundur 1 Januari 2023.Hutama Karya PT Hutama Karya (Persero) tetap melakukan razia kendaraan over dimension over load (ODOL) meski peraturan bebas ODOL ini mundur 1 Januari 2023.

Oleh sebab itu, ia berharap tidak ada lagi pelaku industri yang menjalankan kendaraan ODOL. Lagi pula, hal itu demi kepentingan orang banyak.

"Industri saya harap tidak menambah over dimensi ini, juga tidak menambah ketinggian muat akhirnya terjadi ketidakseimbangan," kata dia.

Istiono juga mengingatkan atas bahaya kendaraaan ODOL bagi keselamatan jalan. Pada 2019, kontribusi penyebab laka lantas karena hal itu ialah 10 persen.

Baca juga: Daftar Mobil dengan Fitur Cruise Control, Mulai Rp 200 Jutaan

Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan Djoko SasonoHumas Kemenhub Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan Djoko Sasono

"Bila kita melihat tahun lalu, korban kecelakaan itu mencapai 25.000 jiwa atau rata-rata 200 jiwa per bulan. Tiap harinya, ada 71 jiwa atau tiap 3 jam sedikitnya ada 4 jiwa yang melayang. Sumbangsih ODOL ini, 90 kejadian tetapi termasuk laka (kecelakaan) massal dan fatal," katanya.

Artinya, meski secara jumlah kecelakaan sedikit namun dampak dari pristiwa tersebut begitu besar. Tidak jarang bahkan yang sampai memutus keturunan.

"Kalau kejadian bisa satu kerajaan habis. Kadang tabrakan beruntun," ujar Istiono.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.