Menelisik Banyaknya Dugaan Truk Rem Blong

Kompas.com - 08/10/2019, 11:35 WIB
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi saat meninjau ujicoba bersama dengan PT Jasa Marga, Ditjen Hubdat dan Kepolisian di jembatan timbang Weigh-In-Motion (WIM) di Jalan Tol Jakarta-Cikampek KM 9 pada Minggu (22/9/2019) DOKUMENTASI KEMENHUBMenteri Perhubungan Budi Karya Sumadi saat meninjau ujicoba bersama dengan PT Jasa Marga, Ditjen Hubdat dan Kepolisian di jembatan timbang Weigh-In-Motion (WIM) di Jalan Tol Jakarta-Cikampek KM 9 pada Minggu (22/9/2019)
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Kejadian truk menabrak kendaraan karena diduga rem blong semakin banyak. Namun hal itu bisa jadi bukan akar masalahnya. Sebab pabrikan truk pastinya sudah memperhitungkan kemampuan rem.

Jusri Pulubuhu, Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), mengatakan, bisa sja yang terjadi bukan karena rem blong, tapi karena truk tidak bisa melakukan perlambatan akibat daya dorong muatan.

Baca juga: Kualitas Sopir Truk di Indonesia Belum Punya Standar Baku

"Apalagi kalau itu truk ODOL (Over Dimension and Overload). Karena saat melaju menimbulkan energi gerak, ketika membawa muatan lebih, maka apa yang terjadi, pada elemen-elemen perlambatan yang dilakukan pengemudi, baik pengereman jalan lurus, menikung, tanjakan dan turunan, bakan saat melintasi terowongan akan negatif," kata Jusri yang ditemui belum lama ini.

Jusri menyoroti banyak kesan kecelakaan truk terjadi karena kinerja rem yang buruk. Padahal kata dia, saat melakukan survei di Tol Cipularang, banyak pengemudi truk yang memang abai mengenai keselamatan berkendara.

Kecelakaan beruntun yang libatkan tiga truk di tol lingkar luar Cakung Cilincing km 51, Jakarta Timur, Jumat (1/2/2019)KOMPAS.com/Ryana Aryadita Kecelakaan beruntun yang libatkan tiga truk di tol lingkar luar Cakung Cilincing km 51, Jakarta Timur, Jumat (1/2/2019)

Jusri menjelaskan dirinya sempat melakukan investigasi di Tol Cipularang beberapa tahun lalu, karena memang kecelakaan di area tersebut cukup sering terjadi bahkan bisa dibilang menjadi hal yang rutin.

Baca juga: Pemerintah Bakal Tindak Tegas Karoseri Nakal Pembuat Truk ODOL

Dari hasil evaluasi tersebut, menurut Jusri rata-rata kendaraan yang melintas selalu berada pada kecepatan tinggi, baik dari mobil pribadi, bus, sampai truk sekalipun.

Untuk kendaran bus dan truk, menurut Jusri, banyak sopir yang sengaja menetralkan tuas transmisi demi alasan efesiensi bahan bakar.

Tanpa disadari apa yang dilakukan sopir tersebut sangat berakibat fatal, pasalnya dengan bobot yang besar dan hanya mengandalkan deselerasi dari rem sudah tentu tidak akan bisa mengalahkan hukum fisika gaya gravitasi.

"Jika sudah seperti itu sama saja seperti tukang jagal. Mungkin kita (pelaku safety driving dan safety riding) sudah paham, tapi bagaimana anak dan istri kita saat berinteraksi dengan truk-truk ini," katanya

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X