Kualitas Sopir Truk di Indonesia Belum Punya Standar Baku

Kompas.com - 04/10/2019, 15:42 WIB
DA saat diamankan polisi Humas Polres BogorDA saat diamankan polisi
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Kecelakaan truk atau bus disebabkan berbagai faktor, selain ODOL atau Over Dimension and Overload, sopir atau manusia yang memegang kendali merupakan faktor kunci.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Budi Setiyadi mengatakan, di Indonesia sopir truk masih jadi profesi sebelah mata, padahal di beberapa negara menjadi sopir truk harus menempuh pendidikan dahulu.

Baca juga: Kewenangan Dishub dan Polisi Tertibkan Truk ODOL

"Di beberapa negara sopir truk masuknya pendidikan vokasi, seperti kita tahu ada pilot dan lainnya. Di sini beda, sopir truk bisa jadi dari awalnya tukang cuci, terus naik jadi kernet, sudah jago maju mundur naik jadi sopir," kata Budi di Jakarta, Kamis (3/10/2019).

Ilustrasi slipstream di belakang trukcnet.com Ilustrasi slipstream di belakang truk

Hal tersebut lanjut Budi, membuat kualitas sopir truk di Indonesia belum punya standar baku. Baik dari keahlian mengemudi kendaraan besar, hingga mental sebagai pengemudi profesional yang punya tanggung jawab di jalan.

Budi mengatakan, saat ini sudah ada beberapa program untuk meningkatkan kualitas sopir truk dengan cara menggelar acara safety driving. Hanya saja skalanya masih kecil dan belum sebanding dengan populasi yang ada.

"Kita juga melakukan pendidikan safety driving tapi kualitasnya belum menyentuh secara kebutuhan yang ada," kata Budi.

Baca juga: Hukuman buat Truk ODOL, Bodinya Dipotong-potong

Kurang Regenerasi

Polisi melakukan olah TKP kasus tewasnya sopir truk Fuso bernama Marthen yang diduga tertembak peluru nyasar di ruas Tol JORR. Olah TKP digelar pada Jumat (13/7/2018).KOMPAS.com/NURSITA SARI Polisi melakukan olah TKP kasus tewasnya sopir truk Fuso bernama Marthen yang diduga tertembak peluru nyasar di ruas Tol JORR. Olah TKP digelar pada Jumat (13/7/2018).

Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia ( Aptrindo) mengatakan, ke depan jumlah sopir truk di Indonesia akan terus berkurang karena kurangnya regenerasi. Operator dan perusahaan pun bakal makin sulit mencari sopir.

Wakil Ketua Umum Aptrindo Kyatmaja Lookman mengatakan, dulu itu sopir adalah alumni kernet. Sekarang, membiayai kernet itu mahal, karena upah minimum regional juga naik terus.

"Saat ini kernet banyak yang memilih untuk menjadi buruh atau tukang bangunan, agar bisa sering pulang. Akhirnya, sopir ini jalan sendiri. Ketika jalan tanpa kernet, akhirnya tidak ada lagi regenerasi sopir truk," katanya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X