Pakai Mesin Impor, TKDN AMMDes Merosot 20 Persen

Kompas.com - 06/08/2019, 08:12 WIB
AMMDes siap diekspor ke-49 negara AMMDes siap diekspor ke-49 negara
Penulis Stanly Ravel
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Alat Mekanis Multiguna Pedesaaan ( AMMDes) rupanya mengalami penurunan kandungan tingkat komponen dalam negeri atau TKDN. Bila sebelumnya digadang-gadang mencapai 90 persen, saat ini justru turun hingga menjadi 70 persen.

Lantas apa yang membuat komponen kandungan lokal tersebut justru merosot bukan meningkat. Menjawab hal ini, Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Ditjen ILMATE Kementerian Perindustrian ( Kemenperin) Putu Juli Ardika, menjelaskan bila hal ini terjadi akibat penggunaan mesin yang berubah dari sebelumnya.

"AMMDes itu menggunakan engine stasioner dulunya, karena arahnya menggunakan engine kendaraan sekarang digunakan mesin grid dari India. Lalu gearbox juga kita kirim dari Taiwan. Sehingga dengan impor engine dan gearbox itu turun (TKDN)," kata Putu di Gedung Kemenperin, Jakarta, Senin (5/8/2019).

Baca juga: Kemenperin Gelar Modifikasi Digital Mobil Desa, AMMDes

Menurut Putu, perubahan mesin dikarenakan juga soal peruntukannya yang semata-mata tak hanya dibutuhkan untuk off-road saja, tapi juga on-road. Selain itu, untuk memproduksi mesin dan gearbox secara lokal saat ini belum bisa karena alasan angka skala ekonominya belum tercapai.

AMMDes suskes dipesan ribuan unit selama GIIAS 2018Dok. KMW AMMDes suskes dipesan ribuan unit selama GIIAS 2018

Sehingga bila memaksakan untuk membuat kedua komponen itu sendiri, sementara perbandingan angka jualan AMMDes belum terlalu banyak, maka tidak akan bisa bersaing. Patokan angka skala ekonomi yang dimaksud Putu adalah bila AMMDes bisa terjual sekitar 7.500 sampai 10.000 unit per tahun.

Walau demikian, dengan status AMMDes yang kini bisa menyerap 70 persen komponen lokal sudah dianggap Putu cukup baik. Karena kondisinya cukup signifikan untuk kendaraan yang baru saja diluncurkan pada 2018 lalu .

"Sebenarnya 70 persen itu sudah sangat tinggi, apalagi untuk tahap awal. Namun nanti akan kita terus dorong untuk mengoptimalkan nanti. Kita dorong produksinya agar masif supaya biaya produksi akan lebih murah, tapi tidak bisa langsung lompat saja," kata Putu.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X