Toyota dan Daihatsu Siap Produksi Mobil Hybrid di Indonesia

Kompas.com - 06/06/2019, 09:03 WIB
Daihatsu Advance Tech, termasuk hybrid dan listrik Daihatsu di GIIAS 2018. KOMPAS.com / GHULAM M NAYAZRIDaihatsu Advance Tech, termasuk hybrid dan listrik Daihatsu di GIIAS 2018.

 

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia tengah mempersiapkan diri menyambut era kendaraan listrik. Guna mendorong percepatan pengembangan kendaraan listrik tersebut, Kementerian Perindustrian berupaya menyosialisasikan kesiapan regulasi kepada pelaku industri otomotif di Jepang.

“Mengenai potensi implementasi dari percepatan electric vehicle dan fasilitas PPnBM yang sedang disusun oleh pemerintah, kami komunikasikan dengan pelaku industri otomotif di sini,” ucap Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam keterangan resmi, Kamis (30/5/2019).

Airlangga menyampaikan, peraturan yang akan dikeluarkan pemerintah Indonesia terkait kendaraan listrik, nantinya diberikan tenggat waktu atau periode transisi selama dua tahun. Harapannya pelaku industri otomotif yang ada di Jepang bisa mulai merealisasikan mulai 2021 atau 2022

Deputy CEO Toyota Corp. Susumu Matsuda menjelaskan, dalam upaya memasarkan kendaraan listrik, pihaknya juga akan fokus dengan pengembangan teknologinya di Indonesia. Hal ini agar pihaknya dapat memberikan pelayanan utama pada konsumen agar praktis menggunakan kendaraan listrik.

Baca juga: Harga Mobil Desa Mahal, Ini Tanggapan Kemenperin

Matsuda menambahkan, Toyota bersama Daihatsu akan memproduksi mobil hibrida di Indonesia pada tahun 2022. Model yang dirakit antara lain sport utility vehicle (SUV) dan multi purpose vehicle (MPV).

“Kami menilai, kedua jenis tersebut yang akan lebih diminati konsumen di Indonesia. Kami sedang mempersiapkan produksinya,” ujar Matsuda.

Berdasarkan kemampuan yang telah dimiliki Indonesia, menurut Airlangga, sejumlah produsen otomotif skala global sedang merencanakan persiapan untuk peluncuran kendaraan listrik di Indonesia dalam waktu dekat.

“Bahkan, dengan kebijakan yang akan dikeluarkan pemerintah, cukup mengkompensasi perbedaan harga antara kendaraan listrik dengan kendaraan internal combustion engine (ICE) yang ada sekarang,” ucap Airlangga.

Perbedaan harga itu diyakini mampu mendorong sebagian konsumen untuk beralih dari yang sebelumnya menggunakan kendaraan berbahan bakar minyak ke kendaraan listrik. Sebab, akan ada keuntungan bagi pengguna kendaraan listrik, terutama efisiensi terhadap konsumsi bensin.

Baca juga: Studi Kendaraan Listrik Tahap Awal, Ini Kata Kemenperin

Dalam kesempatan tersebut Menperin juga mengunjungi pabrik baterai EVE di Hamamatsu. Dari kunjungan itu, Airlangga melihat, Indonesia punya potensi besar dalam penyediaan bahan bakunya. Sebab, Indonesia akan memiliki pabrik yang memproduksi material energi baru dari nikel laterit.

Potensi itu misalnya melalui investasi PT. QMB New Energy Materials di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah, yang ditargetkan bakal beroperasi pada pertengahan tahun 2020. Total investasi yang ditanamkan sebesar USD700 juta dan akan menghasilkan devisa senilai USD800 juta per tahun.

“Proyek industri smelter berbasis teknologi hydrometallurgy tersebut akan memenuhi kebutuhan bahan baku baterai lithium generasi kedua nikel kobalt yang dapat digunakan untuk kendaraan listrik,” ucap Airlangga.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X