Kunci Agar Mobil Listrik Bisa Diterima Masyarakat

Kompas.com - 07/02/2018, 09:25 WIB
Kepala charging station, mobil listrik Ha:mo di Universitas Chulalongkorn, Bangko, Thailand, Selasa (30/1/2018). Agung Kurniawan/Kompas.comKepala charging station, mobil listrik Ha:mo di Universitas Chulalongkorn, Bangko, Thailand, Selasa (30/1/2018).
|
EditorAzwar Ferdian

Singapura, KOMPAS.com - Harga hingga infrastruktur menjadi faktor utama, apabila suatu negara ingin memasarkan kendaraan listrik. Pemerintah harus memberikan insentif pajak agar banderol menjadi lebih terjangkau, dan menyediakan tempat pengisian daya baterai di berbagai tempat.

Mengenai tempat mengisi ulang baterai, ternyata menjadi masalah utama juga buat negara yang sudah menjual mobil listrik. Seharusnya, tersedia di tempat yang mudah dijangkau dan ditemui konsumen.

"Salah satu kunci utama, yaitu membuat tempat pengisian baterai di tempat yang mudah dijangkau, seperti di perkantoran, pusat perbelanjaan, hingga pemukiman," ujar Director Global EV Business Unit Nissan Nicholas Thomas di acara Nissan Futures di Singapura, Selasa (6/2/2018).

Apabila hal itu dipenuhi dengan baik, maka masyarakat pun akan sadar dan tertarik untuk memiliki mobil listrik. Sebab, konsumen tidak ingin repot ketika mengisi daya baterai, dan lain sebagainya.

Baca juga: Nissan Ajak ?Stake Holders? Asia-Oceania Kolaborasi soal Elektrifikasi

"Sebaiknya hal itu bisa dilakukan oleh setiap negara yang ingin memasarkan mobil listrik," ucap Thomas.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sebagai contoh, yang dijelaskan Head Strategic Development SP Group Goh Chee Kiong. Menurut dia, salah satu hambatan mobil listrik di Singapura, mengenai penyediaan tempat pengisian baterai.

Nissan New LeafAditya Maulana - KompasOtomotif Nissan New Leaf

"Kalau di Singapura 90 persen masyarakat tinggal di apartemen dan tempat mengisi baterai tidak tersedia di semua tempat. Ini harus diperbaiki di masa mendatang," kata Goh di tempat sama.

Kondisi seperti itu juga seharusnya bisa menjadi patokan buat Indonesia, apabila ingin mengembangkan kendaraan listrik di masa mendatang.

Apalagi dalam peraturan Presiden Nomor 22 tahun 2017, tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), disebut kalau 2025 setidaknya ada 2.200 kendaraan hibrida atau listrik di Tanah Air.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.