Toyota Prediksi Umur "Mobil Murah" Sampai 2019

Kompas.com - 10/04/2017, 07:02 WIB
Toyota Agya 1.2L TRD S 2017 Febri Ardani/OtomaniaToyota Agya 1.2L TRD S 2017
|
EditorAgung Kurniawan

Jakarta, KompasOtomotif – Isu mengenai berakhirnya program Kendaraan Bermotor Roda Empat Hemat Energi dan Harga Terjangkau (KBH2) atau mobil murah, semakin menarik diperbincangkan. Berkesempatan menemui pihak Toyota Indonesia, ternyata mereka sudah mengantongi gambaran, kalau program ini bakal berakhir 2019.

Bukan berarti mobilnya punah, hanya saja insentif pajak yang diberi Pemerintah untuk model berstatus low cost geen car ( LCGC/mobil murah) sudah tidak 100 persen. Bisa dikatakan kalau harganya sudah mendekati normal. Toyota saat ini memasarkan model Agya, kembaran Ayla yang dikembangkan oleh Daihatsu.

“Kalau menanyakan riset dan prediksi kita terkait LCGC, pemerintah akan terapkan regulasi baru di 2019 yang akan menggantikan LCGC,” ujar Fransiscus Soerjopranoto, Executive GM Marketing Toyota Astra Motor (TAM) saat ditanyakan KompasOtomotif, Jumat (7/4/2017).

Soerjo menambahkan, meski begitu, keputusan akhirnya tetap saja ada di tangan pemerintah. Namun, pastinya tidak langsung diimplementasi, tapi akan diberi masa transisi mungkin satu atau dua tahun untuk menyesuaikan.

“Jadi pemerintah juga memberikan ruang  kepada pelaku industri untuk bersiap, kalau memang ingin melakukan ubahan supaya kami tetap survive. Tidak lantas kami semua langsung mati, karena yang buruk adalah ketika pemerintah memaksa langsung implementasi, terserah mau tidup atau tidak kaminya,” kata Soerjo.

Stanly/Otomania Karimun Wagon R

Pasang Kuda-kuda

Seperti banyak pengalaman yang terjadi, Toyota-Daihatsu selalu saja paling terdepan soal implementasi regulasi. Bahkan saat upaya peralihan program LCGC sudah terendus, Toyota (khususnya) sudah pasang kuda-kuda sedini mungkin.

“Kalau sudah diendus TAM, berarti kami sudah siapkan dari sekarang,” ujar Soerjo.

Pertanyaannya, produk yang dihadirkan merupakan model baru atau modifikasi?

“Bisa jadi new model bisa jadi juga modifikasi, sesuai dengan regulasinya. Jika ada pilihan itu, kami cenderung ambil modifikasi model lama, karena biayanya akan lebih rendah, dan waktunya cepat, paling lama satu tahun, jadi 2020 bisa mulai. Sementara kalau model baru biaya pengembangan lebih besar, dan waktunya juga lama,” ujar Soerjo.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X