Warga India “Dihantui” Asap Diesel

Kompas.com - 01/03/2014, 17:58 WIB
Bus publik menanti lampu hijau di persimpangan jalan. Prashanth Vishwanathan/BloombergBus publik menanti lampu hijau di persimpangan jalan.
|
EditorAris F. Harvenda

New Delhi, KompasOtomotif – Label “Negara Diesel” buat India semakin merugikan penduduknya sendiri. Sekitar 16,8 juta penduduk Ibu Kota, New Delhi, bergumul dengan masalah pencemaran udara bersih yang semakin akut dari otomotif.

“Saya tidak ragu, 100 persen meyakini knalpot kendaraan diesel berkontribusi meningkatkan asma, dan  gangguan pernapasan terhadap penduduk yang harus diberikan penanganan di rumah sakit,” ujar Dr. T.K. Joshi, Director of the Centre for Occupational & Environmental Health di New Delhi, saat merepresentasikan laporan tahun lalu milik World Health Organization (WHO).

PM2.5
Agensi perlindungan lingkungan AS menjelaskan, mesin diesel mengeluarkan polusi yang dikenal dengan PM2.5, merupakan partikel udara dan titik air seukuran lebih kecil dari 2,5 mikrometer atau sepertiga lebar helai rambut. Karena terlalu kecil, bisa menyusup ke dalam paru-paru dan mengotori peredaran darah.

Oktober lalu, WHO mengklasifikasikan PM2.5 sebagai grup utama penghasil carcinogen, serupa dengan asbestos dan tembakau, yang bisa menyebabkan gangguan kehamilan dan janin, asma, kanker paru-paru, dan serangan jantung.  Pada 2013, rata-rata PM2.5 di New Delhi 173 mikrogram per meter kubik, sedangkan di Beijing 89,5 mikrogram, jauh melebihi ambang batas aman WHO, 10 mikrogram.

Pertukaran uang belanja bahan bakar diesel, solar, di India setara 15 miliar dollar AS per tahun. Mendorong partikel carcinogenic, dengan kadar 10 kali lebih besar dari bensin, menyatu dengan udara bersih. Tahun lalu, rata-rata per meter kubik telah melonjak dua kali lipat.

Pemasaran
Delhi berbeda dengan Beijing dan Shanghai yang juga punya masalah dengan polusi. Pencemaran di kedua kota di China itu berasal dari cerobong pabrik hasil pembakaran batu bara, sedangkan warga Delhi mendapatkan asap langsung knalpot mobil dan truk bermesin diesel.

Tercatat 49 persen penjualan mobil penumpang baru pada 2013, bermesin diesel. Naik tiga kali lipat dari 2008, menurut organisasi independen International Council on Clean Transportation. Pasar mobil meningkat rangkap dua menjadi 5 juta unit pada 2020. Masyarakat cenderung lebih memilih diesel sebab harga solar murah, sekitar Rp 10.000 di delhi. Keuntungan lainnya lebih irit dibanding mesin bensin. 

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.