Perang Dingin Honda dan Pebalap MotoGP Kelas ”Open”

Kompas.com - 12/02/2014, 14:24 WIB
Nicky Hayden tidak puas dengan mesin Honda RCV1000R, Nakamoto berargumen. crash.netNicky Hayden tidak puas dengan mesin Honda RCV1000R, Nakamoto berargumen.
|
EditorAris F. Harvenda

Sepang, KompasOtomotif – Musim balap MotoGP 2014 belum dimulai, tapi para pebalap di kelas open MotoGP mulai gerah. Hal ini dipicu performa ciamik Aleix Espargaro yang menunggangi FTR-Yamaha dalam tes resmi pertama di Sirkuit Sepang, Malaysia, minggu lalu. Catatan waktunya masuk 4 tercepat di bawah pebalap factory Marquez, Rossi, dan Lorenzo.

Dengan catatan waktu itu, Espargaro meninggalkan jauh pebalap lain di kelas open. Nicky Hayden misalnya, yang tahun ini bergabung di tim Aspar menggunakan Honda RCV1000R production racer, catatan waktunya terpaut sekitar 1,5 detik dan hanya menduduki pos ke-13. Beda jauh ini membuat "Kentucy Kid"—julukan Hayden—meradang.

”Sangat keras perjuangan dalam tes pertama. Saya tidak menduga akan seberat ini, dan saya menginginkan lebih kompetitif. Tim sudah melakukan improvisasi, terutama pengereman dan kestabilan ketika masuk tikungan. Tapi kami tetap belum kompetitif,” teriak Hayden.

Pernyataan itu bukan ditujukan pada tim, melainkan HRC yang menyediakan paket mesin versi produksi untuk kelas open. Tak hanya Hayden, rekan setimnya Hiroshi Aoyama juga melayangkan nada protes. Scott Reding, yang tahun ini naik kelas dengan bergabung tim Go&Fun Honda Gresini pun sama!

Bukan Mesin ”Factory”
Vice President HRC, Shuhei Nakamoto merespon. Dikatakan, Honda tidak mudah dikendalikan, dan kadang membutuhkan waktu penyesuaian hingga setahun, contohnya Stefan Bradl dari tim LCR. Dia juga menegaskan filosofi berbeda yang diambil Honda dan Yamaha untuk menyediakan mesin kelas open.

”Saya tidak tahu detail, tapi sepertinya mesin Yamaha (M1) di kelas open adalah mesin kelas factory tahun lalu. Dan ini memang diperbolehkan. Pendekatan kami berbeda, dengan mengembangkan mesin baru. Kalau Honda mengobral mesin kelas factory tahun lalu plus paket ECU, statusnya hanya sewa, bukan dibeli, karena sangat confidential,” tegas Nakamoto.

Jawaban Nakamoto pun kembali direspons Hayden. ”Tentu kami harus menyesuaikan diri, seperti ketika saya di Ducati. Tapi tidak butuh setahun untuk hanya mengingat bagaimana membuka gas di trek lurus,” sindirnya.

Keluhan umum yang dijelaskan Hayden, lemahnya tenaga di gigi 4 ke atas. Lalu, ketika rpm turun dan melalui tikungan lambat, mesin terasa ngos-ngosan. ”Saya tahu kalau diadu mesinnya saja tidak mungkin sampai dua detik (beda dengan pebalap atas), jadi saya memang harus melakukan bagian tugas saya, lalu duduk bersama HRC untuk bicara,” papar Hayden.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X