Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Kecelakaan Cipularang, Pemerintah Harus Perhatikan Sopir Truk

JAKARTA, KOMPAS.com - Sopir truk sering kali dijadikan kambing hitam atas kecelakaan yang terjadi di jalan raya. Entah karena kemampuannya yang belum mumpuni atau lalai saat bertugas.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Kyatmaja Lookman, mengatakan, bahwa supir truk saat ini tidak ada regenerasi.

Kebanyakan dari supir truk sekarang yang berpengalaman dan memiliki skil baik adalah sopir senior dengan rentang usia 40 tahun sampai 50 tahun.

Beberapa APM truk di Indonesia memang menawarkan pelatihan kepada perusahaan-perusahaan yang menjadi konsumennya.

Namun, pelatihan tersebut hanya untuk pengemudi yang sudah terampil, bukan mencetak pengemudi yang baru.

"Sedangkan, yang kita butuhkan ini cetak baru. Seharusnya, di SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) ada jurusan mengemudi," ujar Kyatmaja, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini.

Kyatmaja menambahkan, Aptrindo sudah melakukan pendekatan pada pemerintah. Namun, sampai saat ini belum ada tanggapan serius.

"Kita sudah merancang dengan Kemendes, agar BUMDes membuka pelatihan dan penempatan. Tapi, sampai sekarang juga belum jalan," kata Kyatmaja.

Menurut Kyatmaja, sampai saat ini, instansi-instansi pemerintah itu belum efektif melakukan pencetakan, pelatihan, dan penempatan SDM.

Padahal, kalau langkah-langka yang sudah diajukan Aptrindo bisa dijalankan secara masif oleh pemerintah, maka kualitas supir truk di Indonesia juga bisa ditingkatkan.

https://otomotif.kompas.com/read/2019/09/03/121834315/kecelakaan-cipularang-pemerintah-harus-perhatikan-sopir-truk

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke