Jumat, 1 Agustus 2014

Otomotif


Fanatisme Pemilik Membuat VW Terus Hidup di Palembang

Penulis: | Jumat, 02 Mei 2008 | 13:54 WIB
|
Share:
Sumber : - | Author : KOMPAS/ WISNU AJI DEWABRATA

Ratusan pemilik Vespa dan mobil Volkswagen (VW) mengikuti jambore nasional yang diselenggarakan di Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (22/3). Peserta datang dari berbagai kota di seluruh Indonesia.

"MOBIL kodok”, sebutan tersebut selalu melekat pada sosok Volkswagen Beetle yang kelahirannya tidak lepas dari gagasan Adolf Hitler. Waktu itu Hitler menginginkan sebuah mobil rakyat yang terjangkau oleh kelas pekerja di Jerman.

Kini 70 tahun setelah prototipe Volkswagen (VW) Beetle pertama kali dipertontonkan kepada Hitler tahun 1938, kepopulerannya benar-benar menembus batas negara. Keunikan dan keistimewaan desain serta mesinnya memukau siapa saja, tak terkecuali di Palembang, Sumatera Selatan.

Komunitas pencinta VW di Palembang tergabung dalam Palembang Volkswagen Club. Anggota kelompok ini sering terlihat nongkrong di seputar Jalan POM IX, Sabtu malam. Bahkan, Kota Palembang baru saja terpilih sebagai lokasi Jambore VW dan Vespa Nasional 2008 yang berlangsung Maret lalu.

Tri Joko Dharmadi (56) salah satu pendiri Palembang Volkswagen Club saat ditemui Kompas di rumahnya, Sabtu (26/4), menceritakan, jumlah VW di Palembang cukup banyak karena dahulu merupakan kendaraan operasional PT Pertamina dan PT Pupuk Sriwijaya (Pusri). ”Dulu, sekitar tahun 1980, jumlah VW mencapai 100-an. Sekarang yang masih tersisa di Palembang sekitar 50 karena dibawa pemiliknya pulang kampung, seperti ke Jawa dan Medan,” kata Joko.

Menurut catatan Joko, di Palembang pernah ada VW produksi 1948, tetapi sekarang sudah tidak ada. Kebanyakan VW di Palembang produksi tahun 1965 ke atas, yang terdiri dari VW Kodok, VW Combi, VW Safari, dan VW Variant. Beberapa jenis VW keluaran baru, seperti VW Caravelle dan VW New Beetle, pun ada di Palembang.

Merawat VW, kata Joko, sangat mudah, yang terpenting jangan sampai oli mesin telat diganti. Untuk membongkar mesin VW pun mudah, tidak seperti membongkar mesin mobil lainnya. Itulah salah satu kelebihan mesin VW. ”Cukup pakai dongkrak, lalu lepaskan empat baut yang mengunci mesin pada dudukannya,” kata Joko, yang mahir membongkar pasang mesin VW.

Memperoleh onderdil VW tidak sesulit yang dibayangkan orang mengenai mobil tua. Joko mengungkapkan, di Palembang ada dua toko yang menjual onderdil VW. Toko tersebut menjual berbagai jenis onderdil meskipun untuk onderdil tertentu harganya dua kali lipat dibandingkan harga di Jakarta. Untuk memperoleh onderdil yang mahal atau sulit ditemukan, Joko memiliki langganan toko onderdil di kawasan Senen, Jakarta. Joko tinggal menelepon dari Palembang dan barang pun dikirim.

Shaiful Ichsan (49), warga Palembang yang memiliki dua VW, mengatakan, VW memiliki kelebihan mobil buatan Eropa, yaitu kenyamanan dan kestabilan saat melaju di kecepatan tinggi ataupun rendah. VW juga awet meskipun sudah berumur puluhan tahun.  (Wisnu Aji Dewabrata)


Editor :