Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Merasakan Kenyamanan BYD Seal di Jalur Perkotaan

Kompas.com - 07/03/2024, 09:42 WIB
Ruly Kurniawan,
Agung Kurniawan

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Punya status sedan berperforma agresif, tentu bukan hal sulit untuk BYD Seal, mobil listrik penantang asal China, menaklukkan aspal di sirkuit balap.

Terbukti dalam pengujian beberapa waktu lalu di Sirkuit Sentul, Bogor, baik di trek lurus dan tikungan tajam, sedan listrik mampu. melibas dengan mulus tanpa harus mengurangi sensasi sporty-nya.

Namun, bagaimana ketika produk penantang Tesla ini dibawa ke jalur perkotaan Indonesia? Untuk itu, redaksi Kompas.com melakukan tes langsung berkendara bersama BYD Seal pada ruas Bekasi-Jakarta.

Baca juga: BYD Sedang Siapkan Varian Termurah dari Atto 3, Dolphin dan Seal

Test drive BYD SealKOMPAS.com/Adityo Test drive BYD Seal

Pengujian dilakukan selama tiga hari dengan rute Summarecon Mall Bekasi-Kalimalang-Cawang-Bendungan Hilir-Palmerah Selatan (Menara Kompas). Total jarak sekali jalan sekitar 30 Km.

Perjalanan dilakukan pada waktu kombinasi, antara pukul 13.00 WIB dan 16,00 WIB. Adapun gaya berkendara yang dipakai ialah normal, dalam artian tidak terlalu agresif dengan rata-rata kecepatan 20-60 kpj.

Unit yang digunakan, sama seperti pengujian sebelumnya, ialah varian paling tinggi dari BYD Seal yaitu AWD (All Wheel Drive) yang dibekali dua motor listrik masing-masing di depan dan belakang.

Pada lembar spesifikasinya, total tenaga mobil sebesar 522 Tk serta torsi 670 Nm. Dengan kemampuan tersebut, tentu sangatlah berlebih kalau sekadar dijadikan kendaraan harian.

Baca juga: Efek Kasus Pencurian Baterai, BSN Gagas Standardisasi Motor Listrik

Test drive BYD SealKOMPAS.com/Adityo Test drive BYD Seal

Pertama kali melaju, penguji langsung merasakan respons gas yang sensitif. Colek tipis pedal gas, mobil sudah bereaksi dan terasa sekali akselarasi ringan.

Apalagi ketika pedal gas diinjak spontan, badan langsung tertarik untuk bersandar pada jok semi-bucket khas mobil sport. Padahal kala itu mode berkendara yang disetel masih normal.

Sedan listrik ini memiliki tiga mode bekendaa yaitu Eco, Normal, dan Sport. Ketiganya hanya bisa diakses lewat layar utama, menyesuaikan preferensi pengemudi.

Tetapi karena pada kesempatan ini mobil digunakan di perkotaan yang cukup padat, mode normal sudah cukup. Tenaganya terus dapat mengisi dari putaran rendah sehingga memudahkan dalam menyalip atau saat butuh mendahului kendaraan lain.

Baca juga: Simulasi Kredit BYD Seal, per Bulan Mulai Rp 11 Jutaan

Test drive BYD SealKOMPAS.com/Ruly Kurniawan Test drive BYD Seal

Sayang, tenaga yang buas pada BYD Seal tidak dibarengi dengan adanya pengaturan regenerative braking lengkap sebagaimana yang ada pada Hyundai Ioniq 6.

Pengaturannya hanya ada dua macam saja, yaitu low dan high. Cara mengaksesnya pun cukup ribet, hanya lewat layar utama yang berada di tengah dasbor.

Alhasil, pengemudi tidak bisa mengandalkan engine brake ketika mengubah gaya berkendara dari moderat ke agresif dalam waktu singkat. Membuat mobil terasa lompat-lompat karena harus main rem.

Meskipun mobil ini begitu agresif, BYD tetap memberi kenyamanan berkat bantingan suspensinya yang empuk, namun pergerakan mobil tetap stabil karena rangka yang terasa begitu kaku. Ini sensasi baik.

Baca juga: Merasakan Kebuasan Akselerasi BYD Seal

BYD SealKOMPAS.com/Adityo BYD Seal

Meski sama-sama menggunakan e-Platform 3.0 seperti Dolphin dan Atto3, namun khusus untuk Seal, BYD membenamkan teknologi CTB alias Cel to Body.

Teknologi ini memungkinkan baterai yang menyatu dengan rangka body, sehingga kekuatan tingkat kekakuan mobil jadi lebih tinggi untuk menunjang stabilitas.

Suspensi double wishbone pada bagian depan dan belakang 5-link, benar-benar berkerja optimal. Hanya saja ketika mobil sudah capai kecepatan menengah (100 kpj), suspensinya ini terlalu empuk.

Dampaknya, mobil gampang sekali bergoyang. Perasaan tersebut lebih sering ditemukan ketika melintasi jalan tol sehingga berpotensi membuat limbung.

Baca juga: Soal MPV Listrik, BYD Akui Konsumen Indonesia Punya Minat Unik

Adapun pandangan selama berkendara, karena posisi duduk pengemudi benar-benar ada di bagian tengah mobil dengan komposisi 50:50, melihat bagian kap terasa cukup jauh.

Jadi bagi pengemudi yang baru pertama berada di balik kemudinya, akan membutuhkan sedikit penyesuaian supaya mampu mengambil jarak aman yang tepat terhadap pengguna jalan lain di depan.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com