Kompas.com - 05/09/2022, 11:42 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsisi, Pertalite dan Solar, menjadi isu yang hangat diperbincangkan sekarang ini. Meski ramai dibicarakan, tapi masih banyak yang belum sepenuhnya mengerti soal BBM.

Khususnya, tentang nilai oktan atau Research Octane Number (RON) pada bensin. Pada bensin yang dipasarkan di Indonesia, saat ini ada RON 89, RON 90, RON 92, RON 95, dan RON 98.

Tri Yuswidjajanto, dosen Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB), mengatakan, RON adalah ketahanan bahan bakar untuk tidak menyala dengan sendirinya sebelum busi dinyalakan.

Baca juga: Revvo 89 Jadi Bensin Paling Murah, Amankah Ditenggak Mobil Modern?

"Jadi, kalau busi dinyalakan, sebaiknya campuran bahan bakar dan udara itu tidak menyala sendiri. Sebab, jika menyala sendiri, nanti saat busi menyala dan bahan bakar yang ada di dekat busi jadi terbakar, ada tumbukan gelombang antara yang bagian menyala sendiri tadi dan bagian yang dinyalakan busi," ujar Tri, kepada Kompas.com, Minggu (4/9/2022).

(a) Pembakaran normal bensin dalam silinder internal mesin (b) pembakaran dini bensin dalam silinder internal mesin yang mengakibatkan ketukan.chem.libretexts.org (a) Pembakaran normal bensin dalam silinder internal mesin (b) pembakaran dini bensin dalam silinder internal mesin yang mengakibatkan ketukan.

Tri menambahkan, tumbukan tersebut yang menyebabkan adanya suara mengelitik atau knocking.

Dua bahan kimia, heptana dan iso-oktana, dijadikan standar. Untuk heptana memiliki nilai 0 dan iso-oktana memiliki nilai 100.

Saat bahan bakar diuji pada mesin, performanya akan dibandingkan dengan campuran kedua bahan kimia tersebut untuk melihat perpaduan yang paling sesuai.

Baca juga: Menteri ESDM Ajak Warga Bali Konversi Motor Bensin Jadi Listrik

Jika campuran meliputi 20 persen heptana dan 80 persen iso-oktana, maka nilai oktan bahan bakar tersebut adalah 80. Untuk menaikkan nilai oktan, bisa dengan menggunakan aditif.

Mesin dengan kepala silinder transparan buatan Garage 54Dok. YouTube Garage 54 Mesin dengan kepala silinder transparan buatan Garage 54

Jadi, semakin tinggi nilai oktannya, maka semakin besar kompresi yang dibutuhkan bahan bakar untuk terbakar. Maka itu, tiap pabrikan biasanya juga merekomendasikan bensin yang diperlukan pada kendaraan buatannya.

"Kalau semakin tinggi rasio kompresinya, kalau RON yang digunakan rendah, ada kemungkinan bagian campuran yang menyala sendiri sebelum businya dinyalakan. Akibatnya, mesinnya mengelitik atau terjadi knocking," kata Tri.

Sebaliknya, jika kompresinya rendah, lalu bensin yang digunakan memiliki RON yang tinggi, menurut Tri, tenaga yang dihasilkan mesin bisa menurun atau bahkan tidak bertenaga. Selain itu, mesin juga jadi boros dan emisi yang dihasilkan meningkat.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.