Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Beberapa Kesalahan yang Kerap Dilakukan Pengendara Motor Matik

Kompas.com - 05/02/2022, 16:42 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Motor matik merupakan salah satu kendaraan yang paling populer di Indonesia saat ini. Tidak heran jika peminat motor ini semakin mendominasi pasar kendaraan roda dua.

Skuter matik menawarkan kelebihan berupa sistem pengoperasian yang lebih mudah dan masih mampu dikendarai secara nyaman meski membawa barang bawaan yang cukup banyak.

Baca juga: Ini Kesalahan Umum Pengemudi Pemula Saat Masuk Jalan Tol

Meski menawarkan pengoperasian yang mudah, ternyata masih banyak kesalahan yang tanpa sadar dilakukan oleh pengendara motor matik.

Kesalahan pertama yang sering dilakukan oleh pengendara motor matik yakni sering berakselerasi dengan cepat. Hal ini akan menyebabkan beberapa komponen motor menjadi lebih cepat aus.

Ilustrasi motor matikStanly/Otomania Ilustrasi motor matik

Safety Riding Supervisor Astra Motor Jateng Oke Desiyanto mengatakan, kebiasaan ini berakibat terhadap komponen mesin, transmisi dan juga ban akan menjadi cepat aus.

“Ini karena selalu mendapat stres (tekanan berlebihan) berulang-ulang. Sebaiknya, dibiasakan membuka gas selalu dengan cara mengurut (bertahap), sehingga kecepatan sesuai dengan kebutuhan,” katanya kepada Kompas.com, belum lama ini.

Baca juga: Begini Cara Blokir STNK via Online

Dengan berakselerasi secara perlahan, Oke menambahkan, membantu mesin mendapatkan pembakaran yang optimal. Sehingga lebih irit bahan bakar dan komponen lebih awet karena tidak mengalami stres secara berulang.

Kesalahan kedua yang biasa dilakukan oleh pengendara motor matik yakni hanya mengandalkan rem belakang untuk pengereman. Alasannya, tidak sedikit pengendara terutama perempuan yang khawatir ketika menggunakan rem depan motor akan tergelincir dan terjatuh.

Padahal, menurut Oke, penggunaan rem saat berkendara sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan juga jalan yang dilewati.

Mengerem sepeda motor ada teorinya.mpm-motor.co.id Mengerem sepeda motor ada teorinya.

“Penggunaan rem belakang dilakukan saat menurunkan kecepatan saja dan motor tetap bergerak atau menyesuaikan kebutuhan kecepatan dengan sekitarnya,” katanya.

Baca juga: Cek Harga MPV Pintu Geser per Februari 2022

Jika selalu mengandalkan rem belakang saja maka jarak pengereman yang dihasilkan lebih panjang dibanding dengan menggunakan kedua rem secara bersamaan.

“Ini menjadi potensi bahaya jika ruang yang tersedia untuk mengerem hingga berhenti terbatas. Gunakan prosedur pengereman yang benar, sehingga lebih aman dan potensi bahaya rendah,” ujarnya.

Kesalahan berikutnya yakni memutar gas sambil melakukan pengereman. Tidak sedikit pengendara motor matik yang masih mempunyai kebiasaan memutar gas sambil melakukan pengereman.

First ride All New Honda Vario 160 di AHM Safety Riding & Training Center (AHSRTC), Cikarang, Jawa Barat, Rabu (2/2/2022).Foto: AHM First ride All New Honda Vario 160 di AHM Safety Riding & Training Center (AHSRTC), Cikarang, Jawa Barat, Rabu (2/2/2022).

Tujuannya adalah agar bisa mendapatkan keseimbangan saat berkendara, terutama ketika berkendara dalam kecepatan rendah. Kebiasaan tersebut bisa berakibat pada komponen pengereman seperti kampas rem serta kopling juga akan lebih cepat aus.

“Untuk mendapatkan keseimbangan saat berkendara perlu latihan. Yakni cara mengolah keterampilan berkendara tanpa kaki turun di kecepatan ekstra rendah atau sangat pelan,” ucapnya.

Baca juga: Sering Dianggap Remeh, Barang-barang Ini Wajib Ada di Dalam Mobil

Keempat, masih banyak pengendara yang melakukan pengereman mendadak. Melakukan pengereman sebaiknya juga disesuaikan dengan kondisi lalu lintas sekitar. Hanya saja, masih banyak pengendara motor matik yang tidak menggunakan prediksi saat berkendara.

Mereka cenderung hanya mengandalkan respons terhadap apa yang ada di depannya, sehingga pengendara terbiasa mengandalkan rem secara mendadak untuk bereaksi.

“Akibatnya potensi roda kehilangan cengkraman dengan aspal sangat tinggi dan mengalami ngepot (slide) dan bisa berujung jatuh bahkan terlibat kecelakaan,” kata Oke.

Hal ini dikarenakan kompon ban akan cepat terkikis oleh permukaan jalan sehingga ban akan lebih cepat habis alurnya.

“Saat berkendara gunakan pandangan mata minimal sejauh 20 meter ke depan untuk mengumpulkan informasi selengkap dan seluas mungkin, sehingga mampu mengolah merumuskan prediksi bahaya yang bisa terjadi di depan,” katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.