Akibat Sopir Ngantuk, Avanza Naik Trotoar hingga Jeblos ke Parit

Kompas.com - 07/01/2022, 06:02 WIB
Mobil Toyota Avanza bernomor polisi B 1758 UFZ naik trotoar dan tersangkut parit di Jalan Raya Bekasi Timur wilayah Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (6/1/2022), sekitar pukul 11.30 WIB. KOMPAS.com/NIRMALA MAULANA ACHMADMobil Toyota Avanza bernomor polisi B 1758 UFZ naik trotoar dan tersangkut parit di Jalan Raya Bekasi Timur wilayah Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (6/1/2022), sekitar pukul 11.30 WIB.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kecelakaan yang disebabkan karena sopir atau pengemudi mengantuk kembali terjadi. Kali ini menimpa pengemudi Toyota Avanza bernomor polisi B 1758 UFZ.

Kejadian bermula saat sopir hendak pulang dari kantor Samsat Jakarta Timur menuju daerah Pasar Burung, Pisangan Timur, Pulogadung, Jakarta Timur.

Pengemudi yang bernama Dedi, mengaku mengantuk sehingga kendaraannya naik ke trotoar hingga terperosok ke parit.

“Kendaraan menghantam tiang listrik, terus nyangkut,” ucap Dedi dikutip dari Kompas.com, Jumat (7/11/2022).

Baca juga: Beli Mobil Toyota Spot Order Bisa Bebas Pilih Warna tapi Inden Lama

Akibat kecelakaan itu, bagian depan mobil remuk dan bagian kaca belakang pecah. Sementara pengemudi menderita luka ringan pada bagian bibir bawah.

Belajar dari kejadian ini, Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu kembali mengingatkan, bahwa berkendara dalam keadaan mengantuk sama bahayanya seperti dalam kondisi mabuk.

Seorang pria mengantuk saat sedang mengemudi di dalam mobil. Kondisi ini disebut dengan istilah carcolepsy.monstArrr_/Unsplash Seorang pria mengantuk saat sedang mengemudi di dalam mobil. Kondisi ini disebut dengan istilah carcolepsy.

“Jangan pernah memaksakan, lebih baik berhenti sebentar untuk menghilangkan rasa kantuk tersebut. Sebab, otak terlambat memberikan tanggapan akan tangkapan indera kita. Ketika dalam kondisi berkendara, tidak fokus selama beberapa detik saja bisa berakibat fatal,” ujar Jusri.

Menurut Jusri, kejadian yang dapat dialami para pengemudi di jalan adalah gejala microsleep. Ini dapat menjadi tambahan pengetahuan bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang hendak melakukan perjalan jauh.

Baca juga: Hyundai Bantah Rumors Hentikan Riset Mesin Pembakaran Internal

“Microsleep itu keadaan badan tertidur hanya sesaat. Mungkin sekitar 1 sampai 30 detik. Bisa juga saat mata terbuka, saat tengah berkendara. Ini tentu berbahaya,” katanya.

Jika pengemudi sejak awal merasakan kantuk atau lelah, Jusri menyarankan, sebaiknya gunakan transportasi lain atau segera berhenti di tempat aman.

Bisa juga diisi dengan aktivitas lain yang sifatnya menghilangkan kantuk. Seperti mendengarkan musik, mengajak penumpang yang ada di sebelah untuk mengobrol, ataupun stimulasi otak dengan membaca apa yang terlihat.

“Apabila sudah tidak kuat, lebih baik pengemudi cari tempat yang benar-benar aman dan tidur, kemudian setelah segar diperbolehkan melanjutkan perjalanan lagi,” kata Jusri.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.