Kompas.com - 25/10/2021, 12:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Perilaku menyalip adalah kondisi yang rentan mengalami kecelakaan. Ada beberapa alasan mengapa menyalip atau mendahului perlu perhitungan matang.

Jusri Pulubuhu, Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), mengatakan, setidaknya ada tiga alasan mengapa mendahului kendaraan lain bisa sangat berisiko pada keselataman.

Baca juga: Daftar Juara Dunia MotoGP 10 Tahun Terakhir, Quartararo Masuk Daftar

"Mengapa? dalam kondisi normal saja kendaraan saat akan menyalip pasti memacu kecepatan lebih tinggi dari mobil depannya," kata Jusri kepada Kompas.com, Sabtu (23/10/2021).

Sebuah mobil travel terperosok parit di tol Cipali kilometer 92, Kalijati, Subang, Jawa Barat, Rabu (20/10/2021) sekitar pukul 08.30 WIB. Satu orang tewas akibat kecelakaan itu.Handout Sebuah mobil travel terperosok parit di tol Cipali kilometer 92, Kalijati, Subang, Jawa Barat, Rabu (20/10/2021) sekitar pukul 08.30 WIB. Satu orang tewas akibat kecelakaan itu.

"Kemudian saat menyalip pengemudi memasuki sisi blind spot yang akan disalip. Saat itu yang disalip tidak melihat. Kemudian jika menyalip di jalur biasa (jalur dua arah) akan mengambil jalur orang," katanya.

Oleh karena itu kata Jusri, dibandingkan rambu peringatan yang lain, rambu peringatan dilarang menyalip lebih banyak dari rambu lainnya

"Ketentuan menyalip lebih banyak dari ketentuan atau larangan yang lain. Contoh, dilarang menyalip di tanjakan, di turunan, di jalur (marka) jalan solid, kemudian menyalip di persimpangan. Itu saja sudah lima," katanya.

"Terus dilarang menyalip di depan sekolah, di depan rumah sakit, di depan kantor polisi, komplek militer, di zebra cross, di polisi tidur, dan di jembatan. Kalau tidak salah ada 14-15 larangan menyalip," katanya.

Baca juga: Live MotoGP Emilia Romagna - Jack Miller, Joan Mir Kecelakaan

Ilustrasi perempuan naik motorFoto: Yamaha Ilustrasi perempuan naik motor

Berdasarkan hal itu kata Jusri, bahwa betul peringatan para ahli keselamatan berkendara yang menyebut menyalip sangat rentan dengan kecelakaan.

"Fakta berdasarkan lalu lintas, menyalip memberikan kontribusi terbanyak dalam kecelakaan yang ada. Hampir 70-74 persen dari kecelakaan terjadi pada saat menyalip," kata Jusri.

"Data itu datang dari polisi dan di luar negeri NHTSA (badan keselamatan berkendara AS). Salah satu korporasi klien saya, data kecelakaan di perusahaan itu memang paling besar menyalip," ungkapnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.