Bahaya Laten Mengekor Ambulans dan Kendaraan Prioritas

Kompas.com - 03/10/2021, 17:02 WIB
Petugas kesehatan menggunakan alat pelindung berada di mobil ambulans menuju Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet untuk mengantar pasien positif Covid-19 orang tanpa gejala (OTG) di Puskesmas Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (17/9/2020). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengetatkan kembali pembatasan sosial berskala besar, per senin 14 september. Pasien positif Covid-19 tanpa gejala (orang tanpa gejala/OTG) yang sebelumnya bisa menjalani isolasi mandiri di rumah, saat ini harus dikarantina di tempat isolasi pemerintah, seperti di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPetugas kesehatan menggunakan alat pelindung berada di mobil ambulans menuju Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet untuk mengantar pasien positif Covid-19 orang tanpa gejala (OTG) di Puskesmas Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (17/9/2020). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengetatkan kembali pembatasan sosial berskala besar, per senin 14 september. Pasien positif Covid-19 tanpa gejala (orang tanpa gejala/OTG) yang sebelumnya bisa menjalani isolasi mandiri di rumah, saat ini harus dikarantina di tempat isolasi pemerintah, seperti di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet.

JAKARTA, KOMPAS.com - Meski ambulans dan pemadam kebakaran merupakan jenis kendaraan yang mendapatkan prioritas, namun dalam kenyataannya selalu timbul masalah di jalan mengenai keberadaannya.

Tidak hanya berbagai kasus tentang ambulans atau pemadam kebakaran yang terhalang kendaraan lain, tapi juga kebiasaan buruk masyarakat yang gemar mengekor kedua kendaraan tersebut.

Biasanya, pengguna mobil sengaja mengekor kendaraan prioritas dengan tujuan untuk ikut menyalip kendaraan lain di depannya.

Baca juga: Pertamax Turbo Turun, Ini Perbandingan Harga BBM Pertamina dan Shell

Padahal, aktivitas ini terbilang berisiko tinggi menimbulkan kecelakaan. Marcell Kurniawan, Training Director The Real Driving Center (RDC) menegaskan, bahwa sikap mengekor tersebut sangat berbahaya.

Mobil pemadam kebakaran di depan Apartemen Tamansari Sudirman di Jalan Bek Murad, Kelurahan Karet Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan. Apartemen tersebut terbakar pada Minggu (4/4/2021) pagi KOMPAS.com/NIRMALA MAULANA ACHMAD Mobil pemadam kebakaran di depan Apartemen Tamansari Sudirman di Jalan Bek Murad, Kelurahan Karet Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan. Apartemen tersebut terbakar pada Minggu (4/4/2021) pagi

"Yang pasti bahaya. Mengingat kita akan meningkatkan kecepatan di space yang sempit untuk bisa beriringan. Apalagi bila kendaraan di depan tidak memberi jalan atau menutup jalan kita karena dilihatnya kendaraan kita bukan kendaraan prioritas," kata Marcell kepada Kompas.com belum lama ini.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sependapat, Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana turut mengatakan bahwa sikap pengguna jalan yang mengekor kendaraan prioritas merupakan tindakan tak beretika.

Baca juga: Bea Cukai Batam Lelang Nissan GT-R R34, Limit Mulai Rp 500 Jutaan

"Pengemudi yang sering mengekor ini tidak beretika, memanfaatkan situasi darurat untuk kepentingan pribadinya. Pengemudi ini sering disebut tourist convoy, tidak mau bersusah-susah dengan kondisi lalu lintas," kata Sony.

Iring-iringan kendaraan yang ditumpangi Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga bersama Madam Suga Mariko bersiap meninggalkan Terminal VVIP setibanya dari Vietnam di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (20/10/2020). PM Jepang melakukan lawatan kenegaraan ke Indonesia dalam rangka meningkatkan hubungan bilateral antar-kedua negara.ANTARA FOTO/MUHAMMAD IQBAL Iring-iringan kendaraan yang ditumpangi Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga bersama Madam Suga Mariko bersiap meninggalkan Terminal VVIP setibanya dari Vietnam di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (20/10/2020). PM Jepang melakukan lawatan kenegaraan ke Indonesia dalam rangka meningkatkan hubungan bilateral antar-kedua negara.

Sony membenarkan bahwa tindakan mengekor ini sangat berisiko menimbulkan kecelakaan lalu lintas. Sebab mobil yang mengekor akan memaksakan jarak yang rapat dengan ambulans atau pemadam kebakaran dengan kecepatan relatif tinggi.

Selain itu, mobil yang mengekor juga akan ikut bermanuver di antara kepadatan lalu lintas. Salah gerakan sedikit saja, maka tabrakan beruntun dapat terjadi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.