Speed Bump Pulomas Meresahkan, Bikin Polisi Tidur Bukan Asal Tinggi

Kompas.com - 27/09/2021, 08:22 WIB
Ilustrasi polisi tidur ShutterstockIlustrasi polisi tidur

JAKARTA, KOMPAS.com - Speed bump atau yang biasa dikenal dengan polisi tidur, berfungsi untuk membatasi kecepatan kendaraan yang sedang melaju. Alat ini sering kali dijumpai di jalan raya, maupun di jalan kecil seperti komplek, perumahan, atau perkampungan.

Namun, membuat polisi tidur biasanya dilakukan dengan teknik kira-kira dan itu sama saja melanggar aturan. Ukuran polisi tidur itu bukan asal tinggi sampai membuat kendaraan terancam rusak melewatinya. Intinya, membuat polisi tidur ada aturan resminya bukan asal saja.

Seperti contoh pembuatan polisi tidur di Jalan Raya Pulomas, Kayu Putih, Pulogadung, Jakarta Timur.

Dikutip dari Megapolitan Kompas.com, warga sekitar inisiatif membuat polisi tidur berjumlah tiga garis dengan ketebalan sekitar 7-8 cm lantaran resah dengan adanya balap liar di daerah tersebut. Akan tetapi, polisi tidur dinilai tak sesuai spek teknis yang diizinkan.

Baca juga: Ternyata Ini Arti Kode R pada Profil Ban Mobil

Kepala Seksi Lalu Lintas Suku Dinas Perhubungan Jakarta Timur Bernhard L Tobing menjelaskan, sebelumnya di Jalan Pulomas sudah terpasang speed trap sesuai spek teknis, yakni dengan ketebalan 9 mm. Kemudian, warga menambah menjadi polisi tidur.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Penambahan polisi tidur tak ada koordinasi dengan kami. Artinya atas inisiatif warga. Secara teknis speed trap itu 9 mm untuk hilangkan balap liar,” ucap Bernhard.

Benhard melanjutkan, adanya polisi tidur itu memang relatif mengganggu dan membahayakan pengguna jalan. Sejumlah pesepeda pun memprotes keberadaan polisi tidur tersebut. Hingga akhirnya terjadi aksi pembongkaran polisi tidur.

Baca juga: Selain Avanza, Harga Dasar dan Varian Xenia Generasi Baru Juga Bocor

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Info Jakarta dan Sekitarnya (@kabarjakarta1)

Terkait hal ini, Djoko Setiwojarno, Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menyebutkan, aturan pembuatan polisi tidur telah tercantum dalam Peraturan Menteri Perhubungan RI Nomor 82 Tahun 2018 tentang Alat Pengendalian dan Pengaman Pengguna Jalan.

Polisi tidur untuk mengingatkan pengemudi untuk tidak memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, bukan untuk mencelakakan,” ujar Djoko kepada Kompas.com belum lama ini.

Lewat aturan tersebut, telah diatur bahwa polisi tidur merupakan alat pengendalian kecepatan di jalan dengan batas tinggi dan lebar yang telah ditentukan.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.