Kerap Picu Kecelakaan, Mengapa Banyak yang Hobi Ngebut di Jalan Tol?

Kompas.com - 25/07/2021, 16:01 WIB
Jalan Tol Jasa Marga Group Jasa Marga Jalan Tol Jasa Marga Group

JAKARTA, KOMPAS.com - Masih kerap ditemukan pengemudi memacu mobilnya hingga melebihi batas kecepatan yang diatur dalam rambu lalu lintas, terlebih saat melintas di jalan tol.

Pengemudi yang mengebut seolah lupa bahwa kebiasaan tersebut sangat berbahaya dan sering menjadi penyebab terjadinya kecelakaan fatal yang menimbulkan korban jiwa.

Dengan risiko yang tinggi, lantas mengapa masih banyak pengemudi yang abai terhadap batas kecepatan yang ditentukan dan hobi mengebut di jalan tol?

Baca juga: Angkutan Umum Ilegal Ikut Menyumbang Penyebaran Covid-19

Menanggapi fenomena tersebut, Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana mengatakan bahwa kebiasaan mengebut di jalan tol tidak terlepas dari pola pikir si pengemudi.

Mobil Wuling melintang di badan jalan tol Pekanbaru-Dumai usai menabrak belakang truk fuso, Jumat (21/5/2021) malam.Dok. Tol Pekanbaru-Dumai Mobil Wuling melintang di badan jalan tol Pekanbaru-Dumai usai menabrak belakang truk fuso, Jumat (21/5/2021) malam.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ketika pengemudi melintas di jalanan yang lengang seperti di jalan tol yang minim hambatan, maka pikirannya akan terpantik untuk memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi.

“Karena pola pikir pengemudi, mereka egois. Apalagi selama ini tidak ada yang menindak. (Jadi) kalau bisa (mengebut) kenapa tidak,” kata Sony saat dihubungi Kompas.com beberapa waktu lalu.

Baca juga: Wajib Tahu, Hitungan Interval Jarak Tiap Rest Area di Jalan Tol

Menurutnya, selama ini masih banyak pengemudi yang tidak memikirkan konsekuensi atau akibat yang bisa ditimbulkan dari perilaku mengebutnya tersebut.

Padahal ketika seseorang memacu kendaraannya melebihi batas kecepatan, hal di luar perkiraan sangat bisa terjadi.

“Mereka tidak pernah berpikir apa yang bisa dilakukan kalau di kecepatan tinggi mobilnya mengalami selip atau pecah ban," kata Sony lebih lanjut.

Kecelakaan tunggal terjadi di Jalan Prof. Dr. Soepomo, Tebet Barat, Tebet, Jakarta Selatan pada Rabu (26/5/2021) pukul 02.00 WIB.Dok. Dimas Kecelakaan tunggal terjadi di Jalan Prof. Dr. Soepomo, Tebet Barat, Tebet, Jakarta Selatan pada Rabu (26/5/2021) pukul 02.00 WIB.

Sony juga mengatakan, fenomena mengebut di jalan tol ini bukan hanya karena kebiasaan pengemudi saja, tapi juga karena jarang ada tindakan tegas dari petugas. Ia menyayangkan dari pihak berwenang tidak mengetatkan aturan sebelum terjadi kecelakaan demi keselamatan nyawa.

Baca juga: Ini Alasan Kenapa Ukuran Ban Serep Lebih Kecil

Sebenarnya dasar hukum yang mengatur batas kecepatan kendaraan di jalan tol sudah ada, yakni pada Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2013 tentang Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) pasal 23 ayat 4.

Dalam aturan tersebut tertulis bahwa batas kecepatan di jalan tol paling rendah adalah 60 kilometer per jam. Sedangkan batas maksimalnya adalah 100 kilometer per jam. Namun dalam beberapa ruas jalan tol, ada pengecualian.

Misalnya pada Jalan Layang Sheikh Mohammed bin Zayed atau Jalan Tol Layang Jakarta-Cikampek. Ruas jalan tol ini memiliki batas kecepatan maksimal 80 kilometer per jam.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.