Ini Beda Sensasi Nyetir Mobil Sport dengan Mobil Biasa

Kompas.com - 09/06/2021, 15:01 WIB
Pebisnis sekaligus miliarder asal East Midlands, Inggris, Paul Bailey dipercaya menjadi konsumen pertama yang mengoleksi McLaren P1, Ferrari LaFerrari, dan Porsche 918 Spyder. Dailymail.co.ukPebisnis sekaligus miliarder asal East Midlands, Inggris, Paul Bailey dipercaya menjadi konsumen pertama yang mengoleksi McLaren P1, Ferrari LaFerrari, dan Porsche 918 Spyder.

JAKARTA, KOMPAS.com - Mengemudikan mobil sport tidak sama seperti mobil-mobil pada umumnya, misalnya Multi Purpose Vehicle (MPV), Sport Utility Vehicle (SUV) atau sedan.

Mengemudi mobil jenis sport butuh keahlian khusus dan tidak boleh sembarangan. Pengemudinya harus tahu bagaimana cara mengendalikan besarnya tenaga dari mesin mobil super tersebut.

Seperti yang diungkapkan Training Direction The Real Driving Centre Marcell Kurniawan. Menurutnya, mengemudikan mobil sport memang berbeda dengan mobil biasa.

Baca juga: Pentingnya Transportasi Logistik bagi Perekonomian Indonesia

“Stabilitas mobil sport memang lebih tinggi, karena rasio tinggi dan lebar kendaraan baik sehingga tidak akan limbung,” ujar Marcell saat dihubungi Kompas.com beberapa waktu lalu.

Meski mobil sport memiliki perfoma yang tinggi, Marcell tetap menyarankan pengemudi untuk menaati batas kecepatan yang telah ditetapkan di jalan.

“Bukan berarti bila jalan kosong pengemudi jadi terpancing untuk ngebut,” kata Marcell.

Mobil sport premium Ferrari nampak leluasa bergerak di kondisi jalan Jakarta yang sepi, Minggu (25/6/2017)Otomania Mobil sport premium Ferrari nampak leluasa bergerak di kondisi jalan Jakarta yang sepi, Minggu (25/6/2017)

Mobil sport memiliki respon tenaga spontan yang tinggi saat berakselerasi. Menurut Macell, hal tersebut secara bersamaan juga bisa meningkatkan fictitious force (rasa badan tertarik ke belakang).

“Pengemudi yang tidak terlatih merasakan force ini bisa kehilangan konsentrasi sesaat, dan ini bisa berbahaya, karena pengemudi bisa kehilangan kendali di saat kecepatan tinggi,” ucap Marcell.

Baca juga: Selain Dapat PPnBM 50 Persen, Diskon Ertiga di Yogya Tembus Rp 22 Juta

Perlu dipahami, semakin tinggi kecepatan saat mengemudi, maka akan semakin jauh jarak berhenti atau pengeremannya.

“Tidak hanya itu, pengemudi yang memacu kendaraannya pada kecepatan tinggi maka dampak dihasilkan saat tabrakan juga semakin parah,” ucap Marcell.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.