Tourist Convoy, Kendaraan yang Mengekor Ambulans Saat Bertugas

Kompas.com - 08/05/2021, 04:42 WIB
Petugas kesehatan menggunakan alat pelindung berada di mobil ambulans menuju Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet untuk mengantar pasien positif Covid-19 orang tanpa gejala (OTG) di Puskesmas Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (17/9/2020). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengetatkan kembali pembatasan sosial berskala besar, per senin 14 september. Pasien positif Covid-19 tanpa gejala (orang tanpa gejala/OTG) yang sebelumnya bisa menjalani isolasi mandiri di rumah, saat ini harus dikarantina di tempat isolasi pemerintah, seperti di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPetugas kesehatan menggunakan alat pelindung berada di mobil ambulans menuju Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet untuk mengantar pasien positif Covid-19 orang tanpa gejala (OTG) di Puskesmas Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (17/9/2020). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengetatkan kembali pembatasan sosial berskala besar, per senin 14 september. Pasien positif Covid-19 tanpa gejala (orang tanpa gejala/OTG) yang sebelumnya bisa menjalani isolasi mandiri di rumah, saat ini harus dikarantina di tempat isolasi pemerintah, seperti di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet.

JAKARTA, KOMPAS.com - Mobil ambulans dan pemadam kebakaran merupakan jenis kendaraan khusus yang mendapatkan prioritas di jalanan.

Ini berarti jika kendaraan tersebut sedang melintas, pengguna jalan lain wajib untuk memberikan jalan agar mobil ambulans atau pemadam kebakaran ini lewat terlebih dahulu.

Meski begitu, umum ditemui fenomena pengguna jalan lain ikut mengekor mobil ambulans atau pemadam kebakaran saat bertugas. Sikap semacam ini bertujuan untuk ikut menyalip kendaraan lain.

Baca juga: Mudik Lokal di Wilayah Aglomerasi Ikut Dilarang, Ini Sanksinya

Menyikapi fenomena ini, Marcell Kurniawan selaku Training Director The Real Driving Center (RDC) menegaskan bahwa sikap mengekor kendaraan prioritas ini sangat berbahaya.

"Yang pasti bahaya. mengingat kita akan meningkatkan kecepatan di space yang sempit untuk bisa beriringan. Apalagi bila kendaraan di depan tidak memberi jalan atau menutup jalan kita karena dilihatnya kendaraan kita bukan kendaraan prioritas," kata Marcell kepada Kompas.com, Jumat (7/5/2021).

Sebuah mobil pemadam kebakaran tiba di lokasi gudang mercon yang terbakar pada Jumat (27/10/2017) pagi.KOMPAS.com/NIBRAS NADA NAILUFAR Sebuah mobil pemadam kebakaran tiba di lokasi gudang mercon yang terbakar pada Jumat (27/10/2017) pagi.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sepakat dengan Marcell, Sony Susmana selaku Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia juga mengatakan bahwa pengguna jalan yang mengekor kendaraan prioritas ini tidaklah beretika.

Baca juga: Ini Bahayanya jika Truk Kelebihan Muatan Dipaksa Beroperasi di Jalan Tol

"Pengemudi yg sering ngekor ini tidak beretika, memanfaatkan situasi darurat untuk kepentingan pribadinya. Pengemudi ini sering disebut tourist convoy, tidak mau bersusah-susah dengan kondisi lalu lintas," kata Sony.

Sony juga mengatakan sikap mengekor ini sangat berisiko untuk terjadi kecelakaan. Ini karena si pengekor akan memaksakan jarak yang rapat dengan kecepatan yang relatif tinggi serta harus bermanuver di antara kepadatan lalu lintas. Berisiko besar untuk terjadi tabrakan beruntun.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X