Kalibrasi Sertifikasi Pengemudi Truk dan Bus Harus Tiap Tahun

Kompas.com - 16/04/2021, 10:22 WIB
Suasana terminal bus Kalideres, Selasa (13/4/2021). Kompas.com/Sonya TeresaSuasana terminal bus Kalideres, Selasa (13/4/2021).

JAKARTA, KOMPAS.com – Kecelakaan yang melibatkan truk dan bus memang sering terjadi di Indonesia. Misalnya seperti yang bulan Maret 2021 terjadi, sebuah bus pariwisata yang masuk ke jurang, serta kecelakaan lainnya.

Biasanya ada dua penyebab dari kecelakaan ini, pertama dari pengemudi yang tidak paham teknologi kendaraan yang dikendarai. Kedua, ada juga kecelakaan yang dipicu kesalahan maintenance oleh mekanik.

Oleh karena itu, perlu adanya pengemudi dan mekanik yang terjamin. Namun, jika melihat  masalah di Indonesia, bagaimana untuk melakukan sertifikasi pada pengemudi dan mekanik baik truk atau bus agar bisa mengurangi angka kecelakaan?

Baca juga: Larangan Mudik Lebaran 2021, Pengendara Boleh Melintas di Wilayah Ini

Mekanik Hino sedang servis perawatan trukDOK. PT HMSI Mekanik Hino sedang servis perawatan truk

Senior Investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Ahmad Wildan mengatakan, teknologi yang ada di bus dan truk, setiap merek dan model pastinya berbeda. Perbedaannya bisa dari teknologi, cara perawatan, bahkan pengoperasiannya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Saat dia (pengemudi) akan membawa armadanya, dia harus dipastikan dapat lisensi lagi yang memastikan dia memahami SOP mengemudi kendaraan tersebut,” ucap Wildan dalam Kuliah Telegram Indonesia Truckers Club, Rabu (14/4/2021).

Wildan menjelaskan, yang memberi lisensi tersebut seharusnya perusahaan atas nama ATPM. Jadi setiap membeli truk atau bus, perusahaan harus meminta manual pengoperasian. Lalu mengirim instruktur untuk mempelajari isi dari manual tersebut.

Baca juga: Ban Tubeless Pakai Ban Dalam, Ternyata Ada Risikonya

“Setelah paham, instruktur dapat lisensi dari ATPM dan dia bisa menyertifikasi pengemudi lainnya yang akan membawa kendaraan dimaksud. Instruktur mengajarkan soal product knowledge dan daily inspection, karena setiap kendaraan bisa berbeda-beda,” kata Wildan.

Kemudian, Wildan menyarankan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melakukan recurrent atau semacam kalibrasi, layaknya pilot pesawat setiap setahun sekali atau sesuai kebutuhan. Hal ini dilakukan agar mereka diperkenalkan dengan teknologi terbaru di bus dan truk, misalnya seperti retarder.

Kecelakaan Bus Pariwisata di Sumedang, Jawa BaratKEMENTERIAN PERHUBUNGAN Kecelakaan Bus Pariwisata di Sumedang, Jawa Barat

Demikian juga untuk mekanik, pastikan saat melakukan perawatan kendaraan ada buku manualnya. Kemudian, pastikan juga mekanik tersebut paham dan bisa menjalankan manual yang dimaksud.

“ATPM juga seharusnya menyertifikasi mekanik agar bisa menjalankan manual sesuai dengan produknya,” ucapnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X