Ramai Razia Knalpot, Produsen Knalpot Lokal Sebut Produknya Sesuai Aturan

Kompas.com - 21/03/2021, 11:21 WIB
Petugas menindak pemilik kendaraan yang menggunakan knalpot brong di wilayah Karanganyar dok polres karanganyarPetugas menindak pemilik kendaraan yang menggunakan knalpot brong di wilayah Karanganyar
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepolisian makin giat melakukan penindakan para pengguna sepeda motor berknalpot bising yang dianggap mengganggu masyakarat.

Kegiatan ini banyak menimbulkan pro dan kontra. Tak sedikit yang mendukung razia knalpot bising. Tapi ada juga yang merasa tidak terima ditilang bahkan motornya ditahan.

Edi Nurmato alias Abenk, produsen knalpot aftermarket bermerek Abenk Muffler asal Bogor, Jawa Barat, mengatakan, untuk merek knalpot buatannya sudah mengikuti peraturan yang ada.

Baca juga: Daftar Harga Motor Sport Bekas 150 cc per Maret 2021

Mengukur kebisingan knalpot yang benar saat razia knalpot menurut polisiDok. Siger Gakkum Official Mengukur kebisingan knalpot yang benar saat razia knalpot menurut polisi

"Kalau dari saya, knalpot yang saya jual sudah diukur dengan sound level meter atau alat pengukur suara," kata Abenk kepada Kompas.com, Jumat (19/3/2021).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pria asal Purbalingga, Jawa Tengah, itu mengatakan, aturan soal kebisingan knalpot diatur dalam Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor 7 tahun 2009.

"Knalpot juga sudah dilengkapi dengan db killer (peredam). Tapi bisa saja di lapangan itu (knalpotnya) dimodif lagi, suaranya suka yang besar terus db killer dicopot jadi suara yang keluar lebih tinggi," katanya.

Produsen knalpot lokal lain yang enggan disebutkan namanya, juga mengungkapkan produsen knalpot sudah membedakan antara produk untuk balap dan harian.

Baca juga: Daftar Skutik Bekas Rp 5 Jutaan, Bisa Dapat Mio sampai Vario

Razia knalpot bising Foto: Twitter TMC Polda Metro Jaya Razia knalpot bising

"Produk kami yang untuk harian juga tidak bising, desainnya pun dibuat seperti knalpot standar. Kami menyebut modelnya sebagai standar harian," ujarnya.

Dia juga berharap dari Dinas Perhubungan atau polisi, mau memberikan edukasi dan penjelasan mengenai aturan kepada para produsen lokal dan konsumen.

"Sehingga, produsen lokal atau IKM yang termasuk home industri ini bisa meningkat dan tidak dimatikan usahanya," katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.