Tantangan Penerapan Bus Listrik di Indonesia

Kompas.com - 03/02/2021, 17:01 WIB
Bus listrik Higer DOK. PT HIGER MAJU INDONESIABus listrik Higer
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah RI melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tengah mendorong transformasi industri bus listrik di dalam negeri untuk mendukung percepatan era elektrifikasi kendaraan bermotor.

Pada tahap awal, moda transportasi tersebut bisa hadir di kota-kota besar menyesuaikan dengan fasilitas pendukungnya. Kemudian, mulai menjalar ke pemerintahan guna mendorong daya beli.

"Itu mungkin yang bisa dilakukan sehingga daya beli para pengusaha dapat meningkat sekaligus terciptanya ekosistem terkait," ujar Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kemenperin Taufiek Bawazier, Selasa (2/2/2021).

Baca juga: Ada 3 Pabrikan Bus Listrik Dalam Negeri Disebut Siap Beroperasi

Karyawan mengendarai bus listrik saat uji coba di Kantor Pusat PT Transjakarta, Cawang, Jakarta, Senin (6/7/2020). PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) melakukan uji coba dua bus listrik EV1 dan EV2 rute Balai Kota - Blok M dengan mengangkut penumpang.ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA Karyawan mengendarai bus listrik saat uji coba di Kantor Pusat PT Transjakarta, Cawang, Jakarta, Senin (6/7/2020). PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) melakukan uji coba dua bus listrik EV1 dan EV2 rute Balai Kota - Blok M dengan mengangkut penumpang.

Kendati dapat berdampak positif seperti menambah daya serap tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi nasional, penerapan bus listrik di dalam negeri masih menemui tantangan tersendiri.

Kurnia Lesani Adnan, Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) mengatakan bus listrik masih akan kesulitan beroperasi karena terkendala jarak dan fasilitas pendukungnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) maupun pariwisata yang jarak tempuhnya jauh dan tidak tertentu menurut saya akan agak repot," kata dia.

"Sebab, sampai saat ini baik di negara maju, pengisian baterainya masih berorientasi kendaraan dengan jarak tempuh pendek atau dalam kota," lanjut Sani.

Di samping itu, dari kapasitas muatan pada bus listrik juga tidak terlalu banyak dibandingkan bus konvensional karena terdapat penyesuaian seiring tersematnya baterai. Hal sama untuk ketangguhan di berbagai medan jalan.

Baca juga: Ini Alasan Polisi Gencarkan Tilang Elektronik

TransJakarta sedang uji coba teknis bus listrik.Istimewa TransJakarta sedang uji coba teknis bus listrik.

"Luas bagasi dan daya angkut jadi prihal lain mengenai tantangan dari bus listrik. Sebab, baterai itu akan memakan ruang lebih banyak yang membuat kapasitas angkut penumpang jadi lebih sedikit," katanya.

Pernyataan senada dipaprkan Technical Director Karoseri CV Laksana yang mengungkapkan berat baterai bus listrik mencapai 2-3 ton. Jadi, peralihan bakal membuat karoseri melakukan penyesuaian kembali.

"Saya kira, berbagai karoseri harus bisa memastikan komponen baterai yang dihadirkan di bus listrik harus ringan dan tetap kuat materialnya," ucap dia.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.