Kaleidoskop 2020: Gempuran Merek Non-Jepang di Pasar Otomotif Nasional

Kompas.com - 31/12/2020, 08:02 WIB
Pengunjung menyaksikan pameran otomotif Telkomsel Indonesia International Motor Show (IIMS) 2019 di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (26/4/2019). Pameran otomotif terbesar ini akan berlangsung hingga 5 Mei 2019 mandatang. KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMOPengunjung menyaksikan pameran otomotif Telkomsel Indonesia International Motor Show (IIMS) 2019 di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (26/4/2019). Pameran otomotif terbesar ini akan berlangsung hingga 5 Mei 2019 mandatang.

JAKARTA, KOMPAS.com - Dewasa ini peta persaingan otomotif nasional semakin menarik seiring banyaknya merek baru yang ikut meramaikan pasar dalam negeri melalui investasi berkesinambungan.

Tidak tanggung-tanggung, tak sedikit dari mereka yang langsung menyasar segmen paling gemuk di Indonesia, yakni mobil keluarga murah atau biasa dikenal low multi purpose vehicle (LMPV) dan low sport utility vehicle (LSUV).

Langkah strategis ini sebenarnya sudah bisa tercium sejak lima tahun belakangan yang diawali duo produsen asal China, yakni Wuling Motors dan PT Sokonindo Automobile (DFSK).

Baca juga: Kaleidoskop 2020: Kalahkan Sigra, Brio Satya Jadi Mobil Murah Terlaris

Ilustrasi bengkel WulingWuling Ilustrasi bengkel Wuling

Kala itu, tepat pada 22 Mei 2017 Wuling meluncurkan seri mobil keluarga pertamanya yaitu Wuling Confero yang dibanderol sangat murah, mulai Rp 128,8 juta sampai Rp 162,9 juta.

Tak berselang lama, DFSK juga menghadirkan Glory 580 yang diproduksi secara lokal di pabriknya bertempat di Cikande, Serang, Banten. Lalu satu tahun setelahnya, dihadirkan Glory 560 sebagai produk termurah darinya.

Saat Wuling dan DFSK sedang sibuk membangun brand image di Tanah Air dengan menghadirkan produk baru dan perluasan diler, Renault meluncurkan LSUV Triber di pertengahan 2019.

Di bawah bendera PT Maxindo Renault Indonesia (MRI), merek asal Perancis tersebut menyatakan bakal lebih serius untuk menggarap pasar dalam negeri.

Kabar serupa berhembus dari merek mobil asal Korea Selatan, KIA, yang resmi melepas diri dari Kia Mobil Indonesia ke PT Kreta Indo Artha (KIA) dengan kepemilikan Indomobil Sukses Internasional (60 persen) dan Sarimitra Kusuma Ekajaya (40 persen).

Baca juga: Puncak Arus Lalu Lintas di Tahun Baru, Hindari Berpergian Besok

Logo KiaKOMPAS.com/Ruly Logo Kia

Memasuki tahun 2020, Hyundai mengungkapkan keseriusannya di pasar domestik dengan dibentuknya anak perusahaan dan distributor resmi PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) oleh Hyundai Motors Company.

Pada tahap awal, perseroan berfokus untuk menggarap mobil listrik murah dan SUV kelas menengah seperti Ioniq EV, Kona EV, Kona, Santa Fe, serta Palisade.

Lantas, bagaimana popularitas merek Non-Jepang tersebut selama tahun ini? Menurut data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan tahunan mereka cukup baik kendati belum optimal.

Selama Januari-November 2020, Wuling melalui Almaz, Confero, Cortez, dan Formo mampu mencapai angka penjualan dari pabrik ke diler alias wholesales sebanyak 4.446 unit, turun 74,8 persen dibanding tahun lalu.

Penjualan mobil Non JepangKOMPAS.com/Ruly Penjualan mobil Non Jepang

Wajar saja memang, mengingat tahun ini kinerja penjualan belum optimal karena adanya pandemi yang membuat berbagai aktivitas industri harus terhenti sementara.

Wuling sendiri, mengalami perlambatan sangat dalam di periode April 2020 (29 unit), Mei 2020 (37 unit) serta Juni 2020 (34 unit). Penjualan LMPV mereka amat merosot dan cukup sulit untuk proses pemulihannya.

Sementara saudara jauhnya, DFSK, berhasil mengumpulkan wholesales sebanyak 1.644 unit, turun 51 persen dari pencapaian Januari-November 2020 yang berhasil mencapai 3.368 unit. Cukup konsisten, tapi belum ada peningkatan pasar.

Penjualan DFSK sendiri didukung oleh beberapa produk andalannya, mulai Glory i-Auto, Glory 580, Glory 560, Gelora Blind Van, dan Super Cab.

Baca juga: Kaleidoskop Mobil Elektrifikasi yang Hadir di Tengah Pandemi Covid-19

Review Hyundai Kona Electric. SUV berpenggerak listrik dari Hyundai dengan banderol Rp 600 juta-anKOMPAS.COM / SETYO ADI Review Hyundai Kona Electric. SUV berpenggerak listrik dari Hyundai dengan banderol Rp 600 juta-an

Adapun pangsa pasar kedua merek China ini secara berurutan sebesar 0,9 persen dan 0,2 persen dari total penjualan mobil secara nasional.

Pada produk asal Korea Selatan sendiri, masih cukup tersendat. KIA hanya berhasil membukukan penjualan 697 unit dan Hyundai yang baru aktif di September 2020 mencapai 161 unit.

Kendati demikian, mereka nampak masih berupaya membentuk ekosistem baru dengan cara menghadirkan produk menarik selama sebelas bulan belakangan.

Renault melalui beberapa produk murahnya seperti Triber dan Kwid juga mengalami hal serupa. Mereka baru mencapai penjualan sebanyak 304 unit.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X