Permintaan Minyak Dunia Turun Seiring Kendaraan Listrik Mulai Diminati

Kompas.com - 24/11/2020, 19:31 WIB
Hyundai Kona Electric KOMPAS.com/RulyHyundai Kona Electric
|

JAKARTA, KOMPAS.com – Permintaan minyak dunia diprediksi akan menurun drastis. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan kendaraan listrik yang semakin berkembang di sejumlah negara.

Sebuah lembaga keuangan independen, Carbon Tracker, melaporkan bahwa peralihan ke EV di pasar negara berkembang dapat menghemat pengeluaran pemerintah sekitar 250 miliar dolar AS per tahun.

Permintaan minyak global pun diprediksi akan anjlok hingga 70 persen. Dari kaca mata ekonomi, hasil ini jelas bakal berdampak pada negara yang hanya bergantung pada industri minyak dan gas.

Baca juga: Hasil Rendering Honda All New CBR150R Viral, Mirip CBR250RR?

Sasis, baterai, motor listrik pada mobil listrik murni (BEV) Toyota, Lexus UX 300e.Toyota Sasis, baterai, motor listrik pada mobil listrik murni (BEV) Toyota, Lexus UX 300e.

Studi lain yang dilakukan Carbon Tracker menunjukkan bahwa peralihan ke kendaraan listrik telah menghemat pengeluaran China hingga 80 miliar dolar AS setiap tahun pada 2030.

Untuk diketahui, saat ini impor minyak menyumbang 1,5 persen dari PDB China, dan 2,6 persen dari PDB India.

Kedua negara tersebut sudah mengurangi ketergantungan mereka pada impor dan memberi insentif kepada rakyatnya yang ingin beralih menggunakan kendaraan listrik.

Baca juga: Morbidelli Sebut MotoGP 2021 Akan Fantastis bersama Valentino Rossi

Ilustrasi kenaikan harga minyak duniaShutterstock Ilustrasi kenaikan harga minyak dunia

Meski begitu, dalam membangun infrastruktur kendaraan listrik memang terbilang mahal, khususnya buat negara-negara yang tidak memiliki sumber energi terbarukan.

Tapi sejumlah analisis menyimpulkan bahwa revolusi kendaraan listrik dapat mengatasinya, karena biaya komponen bakal semakin murah dengan berjalannya waktu.

Carbon Tracker mencatat harga baterai EV akan terus merosot, turun 20 persen sejak 2010. Bahkan biaya penggunaan kendaraan listrik diprediksi bisa lebih rendah.

Baca juga: Wuling Almaz Limited Edition Resmi Meluncur di Indonesia

Mercedes-Benz Privilege Parking with EQ Power Charging yang di Plaza Indonesia, Jakarta, tepatnya di area parkir P2. Fasilitas pengisian baterai untuk mobil listrik dan mobil ramah lingkungan tersebut disediakan oleh Mercedes Benz Distribution Indonesia khusus untuk pelanggannya mulai Senin (24/9/2018).KOMPAS.com/ALSADAD RUDI Mercedes-Benz Privilege Parking with EQ Power Charging yang di Plaza Indonesia, Jakarta, tepatnya di area parkir P2. Fasilitas pengisian baterai untuk mobil listrik dan mobil ramah lingkungan tersebut disediakan oleh Mercedes Benz Distribution Indonesia khusus untuk pelanggannya mulai Senin (24/9/2018).

Turun dari 135 dolar AS per kWh menjadi di bawah 100 dolar AS per kWh, yang artinya bisa semurah penggunaan kendaraan konvensional.

Pada 2030, diperkirakan harga baterai EV menjadi lebih murah yang menurut Bloomberg New Energy Finance bisa mencapai 61 dolar AS per kWh. Sementara VW dan Tesla memprediksi harga baterai EV bisa serendah 50 dolar AS per kWh.

“Ini adalah pilihan sederhana antara semakin bergantung pada minyak yang selama ini mahal diproduksi oleh kartel asing,” ujar Kingsmill Bond, pimpinan laporan penulisan Carbon Tracker, dilansir dari The Driven.

“Atau listrik dalam negeri yang diproduksi oleh sumber terbarukan yang harganya turun seiring waktu. Importir pasar berkembang akan mengakhiri era minyak,” katanya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X