Teknik Berkendara Eco Driving Diusulkan Jadi Syarat Bikin SIM

Kompas.com - 13/11/2020, 19:21 WIB
kursus mengemudi Kompas.com/Fathan Radityasanikursus mengemudi
|

JAKARTA, KOMPAS.com – Penerbitan Surat Izin Mengemudi ( SIM) dan sekolah mengemudi tengah disorot sejumlah pihak lantaran dianggap belum mampu menciptakan iklim lalu lintas yang aman dari kecelakaan.

Untuk diketahui, secara resmi tata cara mendapatkan SIM merujuk pada Peraturan Kapolri Nomor 9 Tahun 2012 tentang Surat Izin Mengemudi. Namun salah satu pasal disebut tidak mensyaratkan para pengendara butuh keahlian.

“Hal yang disasar adalah mengubah kebijakan dalam hal ini UU No. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ), ujar Ahmad Safrudin, Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), dalam webinar (12/11/2020).

Baca juga: 4 Kebiasaan Pengemudi Mobil Matik yang Bikin Transmisi Cepat Jebol

Jajal All New Honda Scoopy di  AHM Safety Riding and Training Center, Cikarang, Jawa Barat.Foto: AHM Jajal All New Honda Scoopy di AHM Safety Riding and Training Center, Cikarang, Jawa Barat.

“Ada satu pasal yang tidak mensyaratkan bahwa driver atau rider itu tidak perlu kompetensi, dengan demikian ada landasan bagi Kepala Polisi Republik Indonesia (Kapolri) untuk merevisi peraturan no. 9 tahun 2012 di mana salah satu pasalnya tentang pengurusan SIM,” ucap pria yang akrab disapa Puput.

Menurut Puput, kompetensi mengemudi jadi syarat penting bagi siapapun untuk bisa berkendara dengan menerapkan prinsip eco driving.

Berkendara secara eco driving dinilai tak hanya bisa menghemat BBM, tapi diharapkan juga bisa mengurangi angka kecelakaan lalu lintas, dan memberikan dampak positif bagi lingkungan.

Baca juga: Pilihan Mobil Bekas City Car Rp 60 Jutaan

Misbah (12) didampingi ayahnya membuat surat izin mengemudi sebelum  mencoba wahana IIMS Road Safety for Children di Indonesia Intenational Motor Show 2016, di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (8/4/2016).  Melalui wahana yang dikhususkan bagi anak usia 6-12 tahun ini, anak-anak diajarkan mengenal rambu lalu lintas dengan langsung dipraktikkan. KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZES Misbah (12) didampingi ayahnya membuat surat izin mengemudi sebelum mencoba wahana IIMS Road Safety for Children di Indonesia Intenational Motor Show 2016, di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (8/4/2016). Melalui wahana yang dikhususkan bagi anak usia 6-12 tahun ini, anak-anak diajarkan mengenal rambu lalu lintas dengan langsung dipraktikkan.

Puput menilai, sebagian pesar pengendara belum tentu mengenal prinsip dasar keselamatan berkendara. Hal ini yang menjadi biang permasalah kecelakaan lalu lintas.

Jangankan eco driving, prinsip berkendara safety driving maupun defensive driving belum banyak diketahui para pengendara di jalan.

Padahal prinsip-prinsip ini kalau dilakukan secara konsisten, dapat menekan biaya penggunaan bahan bakap maupun biaya perawatan kendaraan.

Baca juga: Carry Minibus dan Blind Van Lahir Kembali, Harga Tembus Rp 200 Juta

Hino safety driving di halaman Gedung PRPP Jateng, Kamis (24/10/2019)KOMPAS.com/RISKA FARASONALIA Hino safety driving di halaman Gedung PRPP Jateng, Kamis (24/10/2019)

“Tentu kita mengendarai kendaraan itu tidak tentu, mungkin istilah kata ‘yang penting jalan’, semacam operator untuk kendaraan bermotor tersebut, bukan driver,” tuturnya.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X