Kompas.com - 07/11/2020, 10:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Konvoi atau iring-iringan motor gede (moge) kerap dilakukan oleh beberapa komunitas baik di Jakarta maupun di luar daerah. Namun yang disayangkan, kadang ada oknum yang berlaga bak jagoan dan bersikap intoleran terhadap pengguna jalan lainya.

Seperti contoh kasus yang belum lama terjadi, yaitu kekerasan yang dilakukan oleh oknum klub motor Harley Owners Group (HOG) kepada anggota TNI.

Kejadian ini dipicu oleh tingkah laku beberapa anggota klub moge yang dianggap kurang sopan saat hendak melakukan touring. Melihat hal ini dua prajurit TNI mengambil tindakan, yang berujung pada cekcok dan pengeroyokan.

Baca juga: Hasil FP2 MotoGP Eropa, Jack Miller Jadi yang Tercepat

Menurut Training Director Safety Defensive Consultant Sony Susmana, ada beberapa hal yang bisa menjadi pemicu pengemudi moge menjadi arogan. Salah satunya adalah perilaku pengendara yang kurang baik.

“Mungkin karena mereka merasa diprioritaskan karena dipimpin oleh voorijder, atau bisa juga karena merasa motornya beda kasta dengan yang lain,” ujar Sony kepada Kompas.com, Jumat (6/11/2020).

Rombongan pengendara motor gede (Moge) dari Sarawak yang datang menghadiri pembukaan Festival Wonderful Indonesia di Aruk, Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, Sabtu (17/9/2016). KOMPAS.COM/YOHANES KURNIA IRAWAN Rombongan pengendara motor gede (Moge) dari Sarawak yang datang menghadiri pembukaan Festival Wonderful Indonesia di Aruk, Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, Sabtu (17/9/2016).

Lantas, apa yang harus di lakukan ketika bertemu rombongan moge di jalan raya?

Sony menyarankan, jika kita berada dalam posisi tersebut sebaiknya mengalah saja agar terhindar dari konflik dan kecelakaan.

"Ketika ketemu rombongan moge di jalan, tidak usah panik. Terutama bila kecepatannya di atas rata-rata, kasih saja buka jalan, beri ruang untuk mereka lewat,” ucapnya.

Baca juga: Ingat Jangan Cuma Andalkan Spion Saat Berbelok

Hal serupa juga diungkapkan oleh Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu. Saat berkendara di jalan raya baik pengemudi motor kecil maupun motor besar harus saling mengalah, dan memiliki sifat berbagi untuk menghindari gesekan ini.

"Masalahnya adalah lemahnya kita dalam berempati. Coba misalkan ada empati tidak akan ada kejadian seperti itu. Harus ingat bahwa jalan raya adalah ruang publik,“ kata Jusri.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.