Jakarta PSBB Lagi, Produsen Otomotif Andalkan Kendaraan Niaga

Kompas.com - 12/09/2020, 08:02 WIB
Kendaraan melintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (7/4/2020). Pemerintah telah resmi menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di wilayah DKI Jakarta dalam rangka percepatan penanganan COVID-19. ANTARA FOTO/AKBAR NUGROHO GUMAYKendaraan melintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (7/4/2020). Pemerintah telah resmi menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di wilayah DKI Jakarta dalam rangka percepatan penanganan COVID-19.

JAKARTA, KOMPAS.com – Tahun ini angka penjualan mobil dipastikan menukik tajam dibandingkan tahun lalu. Gaikindo mencatat penjualan terendah terjadi pada April dan Mei 2020, sementara pada Juni sampai Agustus lalu mulai ada peningkatan.

Dengan rencana berlakunya kembali pembatasan sosial berskala besar ( PSBB) secara ketat di Jakarta, penjualan kendaraan diprediksi bakal terdampak.

“Penjualan kendaraan saat PSBB normal vs PSBB transisi, sudah meningkat cukup tinggi. Pada saat April-Mei lalu, dibandingkan dengan Juni-Juli-Agustus, sudah naik dua kali lipat,” ujar Harold Donnel, Head of 4W Brand Development & Marketing Research PT Suzuki Indomobil Sales, kepada Kompas.com (11/9/2020).

Baca juga: Usai New Yaris, Toyota Siapkan Peluncuran Fortuner Baru?

Ignis, walaupun harganya lebih murah dari Vitara Brezza ataupun Ertiga, dijual di diler premium Suzuki Nexa di India.Febri Ardani/KompasOtomotif Ignis, walaupun harganya lebih murah dari Vitara Brezza ataupun Ertiga, dijual di diler premium Suzuki Nexa di India.

Meski begitu, Harold mengatakan PSBB tahap awal begitu berpengaruh kepada penjualan mobil karena saat itu masyarakat mengalami ketakutan yang cukup tinggi.

“Kalau saya pribadi melihat masyarakat sekarang sudah lebih terbiasa, artinya mereka enggak lagi seperti bulan Maret-April. Pada awal-awal semua memang shock banget,” ucap Harold.

Ia juga telah memprediksi, jika PSBB ketat kembali diterapkan, pihaknya sudah tahu bakal fokus ke segmen mana. Menurutnya, segmen niaga bakal lebih bertahan di pasaran ketimbang kendaraan penumpang.

Baca juga: Honda Forza Baru Meluncur Pekan Depan

Pengujian Suzuki Carry pikap di jalur Merapi Kaliurang YogyakartaKompasOtomotif - AFH Pengujian Suzuki Carry pikap di jalur Merapi Kaliurang Yogyakarta

“Jadi resistensi segmen komersial mungkin lebih baik dibandingkan passenger. Bisa dibilang mereka lebih tahan banting dibandingkan passenger yang lebih dinamis,” tuturnya.

Sementara itu, Director of Sales & Marketing PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTM) Duljatmono, mengatakan, bisnis otomotif jadi yang paling terdampak pandemi Covid-19.

Namun segmen kendaraan komersial menurutnya masih bisa memperoleh tren positif ketimbang segmen kendaraan penumpang.

Baca juga: Ingat Regulasi Berkendara Saat PSBB, Ancaman Dendanya Rp 1 Juta

Stan kendaraan komersial di GIIAS 2019.Kompas.com/Donny Stan kendaraan komersial di GIIAS 2019.

Duljatmono menambahkan, salah satu yang menonjol adalah bisnis jasa pengantaran dan pengiriman yang kini menjadi tulang punggung pertumbuhan kendaraan komersial selama pandemi.

“Saat ini porsi permintaan dari sektor logistik pada truk sampai 55 persen, begitu dominan. Kita tentu akan terus berupaya bisa survive dari tantangan ini dan mencari peluang bisnis sesuai perusahaan,” katanya, belum lama ini.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X