Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mitos atau Fakta, Gonta-ganti Jenis BBM Bisa Merusak Mesin?

Kompas.com - 14/07/2020, 14:22 WIB
Dio Dananjaya,
Aditya Maulana

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Di pasaran tersedia beragam jenis BBM, dari yang punya angka oktan kecil mulai RON 88, sampai yang paling besar RON 98. Mereknya pun bermacam-macam, dari Pertamina, Shell, Total, Vivo, British Petroleum, dan sebagainya.

Setiap orang tentu punya pertimbangan sendiri dalam memilih bahan bakar yang cocok untuk kendaraan kesayangan. Hal ini tentu sah saja, namun yang jadi masalah jika BBM yang digunakan tidak selalu sama.

Tri Yuswidjajanto Zaenuri, ahli konversi energi dari Fakultas Teknik dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung, mengatakan, mengisi BBM dengan jenis yang berbeda-beda dapat mempengaruhi performa mesin dalam jangka panjang.

Baca juga: Detail Teknis Pindad Maung 4x4, Mobil Taktis Ringan buat Tempur

“Meskipun semua merek BBM memenuhi spesifikasi yang ditetapkan Ditjen Migas, kandungan senyawa kimia yang ada di dalam BBM masing-masing merek pasti berbeda,” ujar Yus, dalam diskusi virtual belum lama ini.

Menurutnya, tiap jenis BBM punya campuran senyawa olefin, benzena, serta zat aditif, hingga kandungan deterjen yang berbeda satu sama lain.

Beragam campuran senyawa ini memberikan efek yang berbeda terhadap performa dan karakteristk mesin.

Baca juga: Prabowo Geber Maung, Mobil Taktis 4x4 Garapan Pindad

Yus menambahkan, paling kelihatan biasanya terjadi penumpukan kerak yang lebih banyak di ruang bakar saat kita sering mengganti jenis BBM.

Hasilnya konsumsi BBM bisa lebih boros lantaran banyak bahan kabar yang terbuang percuma lantaran tidak sesuai dengan spesifikasi mesin. Selain itu, kadar emisi gas buang yang dihasilkan juga lebih tinggi.

“Pembentukan kerak inilah yang dapat berefek pada karakteristik pengoperasian mesin tersebut, karena performanya bisa turun,” katanya.

“Oleh karena itu gonta-ganti merek BBM sebisa mungkin dihindari untuk menjaga mesin bekerja secara konsisten dan menghindari emisi yang tinggi,” ucap Yus.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Berikan Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Hari Ini Diprediksi Puncak Arus Mudik Lebaran 2025!
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi Akun
Proteksi akunmu dari aktivitas yang tidak kamu lakukan.
199920002001200220032004200520062007200820092010
Data akan digunakan untuk tujuan verifikasi sesuai Kebijakan Data Pribadi KG Media.
Verifikasi Akun Berhasil
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau