Bijakkah Membeli Kendaraan di Tengah Pandemi Virus Corona?

Kompas.com - 16/04/2020, 11:38 WIB
Ilustrasi jual beli mobil SHUTTERSTOCKIlustrasi jual beli mobil

JAKARTA, KOMPAS.com - Pandemi virus corona atau covid-19 yang terjadi di Indonesia telah berdampak pada beragam aspek dalam kehidupan. Salah satunya di sektor otomotif.

Penurunan daya beli terjadi di pasar mobil baru maupun mobil bekas. Namun, tidak sedikit masyarakat yang memilih untuk membeli kendaraan di tengah pandemi lantaran diskon yang ditawarkan cukup besar. Lantas, bijakkah membeli kendaraan dalam situasi seperti ini?

Perencanaan Keuangan dari OneShildt Financial Planning, Budi Raharjo, mengatakan, sah-sah saja membeli kendaraan di tengah merebaknya wabah virus corona, tetapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

“Semua tergantung pada tujuan awal masyarakat membeli mobil. Dalam situasi ini, ada dua golongan kelompok masyarakat yang pertama golongan masyarakat yang kondisi finansial atau keuangannya tidak terganggu (Misal, pegawai negeri, perbankan). Yang kedua, kondisi masyarakat yang kondisi finansialnya terganggu, baik berkurang pendapatannya atau bahkan di PHK wabah yang sedang terjadi (Misal, travel, hotel)” ujar Budi ketika dihubungi Kompas.com, Kamis (16/04/2020).

Baca juga: Ada Untungnya Beli Mobil Bekas di Tengah Pandemi

Bursa mobil bekas di Mall Blok M Lt. Basement, Jakarta SelatanKompas.com/Dio Bursa mobil bekas di Mall Blok M Lt. Basement, Jakarta Selatan

Budi melanjutkan, “dengan melihat situasi keuangannya, sah-sah saja bagi golongan pertama untuk membeli kendaraan di tengah pandemi. Apalagi disusul dengan tujuan yang bersifat produktif, misal untuk ekspansi.

"Seperti yang diketahui saat ini kan banyak yang menawarkan jasa penyemprotan disinfektan baik di rumah atau di kantor, otomatis kendaraan pasti diperlukan,” jelas Budi.

Baca juga: Cara Beli Mobil Bekas Tanpa Harus Keluar Rumah

Berbeda dengan masyarakat atau pekerja yang keuangannya terkenda dampak dari pandemi covid-19.

Budi mengatakan, masyarakat sebaiknya mereka menyimpan uang dan memprioritaskan dana darurat untuk menyambung hidup, bukan menambah aset yang tidak terlalu penting.

“Apalagi jika membeli dengan cara kredit, membeli dengan cara kredit akan menambah beban cash flow (uang yang didapat dalam periode tertentu). Jadi sebaiknya hal tersebut ditunda sampai situasinya menjadi lebih baik,” kata Budi.

Dengan kondisi seperti ini, memang tidak sedikit masyarakat yang tidak mampu membayar cicilan sehingga terpaksa harus menjual kendaraannya.

Hal ini tentu menjadi bisa peluang bagi mereka yang ingin membeli kendaraan, karena besarnya diskon yang ditawarkan.

Namun Budi kembali mengingatkan, hal tersebut boleh saja dilakukan dengan catatan perhatikan kondisi cash flow.

“Pastikan dulu tujuan utama membeli kendaran untuk apa. Jika hal tersebut bukan prioritas atau tidak begitu penting sebaiknya ditunda. Karena dalam kondisi pandemi seperti ini masyarakat harus mempersiapkan hal buruk yang mungkin saja terjadi,” ujar Budi.

Masyarakat juga harus ingat bahwa kendaraan bukanlah investasi jangka panjang, kecuali kendaraan yang dibeli adalah model langka yang memang diincar oleh para kolektor otomotif.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X