Tes Psikologi untuk Bikin SIM Harus Segera Dimulai

Kompas.com - 17/02/2020, 09:32 WIB
Mobil Gran Max yang mengalami kecelakaan dengan Mobil Lancer di Tol Jagorawi KM 8, terparkir di Kantor Satuan Wilayah Lalu Lintas (Satwil Lantas) Polres Metro Jakarta Timur di Kebon Nanas, Minggu (8/9/2013). Warta Kota/ANGGA BHAGYA NUGRAHAMobil Gran Max yang mengalami kecelakaan dengan Mobil Lancer di Tol Jagorawi KM 8, terparkir di Kantor Satuan Wilayah Lalu Lintas (Satwil Lantas) Polres Metro Jakarta Timur di Kebon Nanas, Minggu (8/9/2013).
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Satlantas Polresta Solo akan mulai memberlakukan tes psikologi bagi pemohon SIM mulai Senin (24/2/2020). Jadi tidak hanya mengikuti ujian tulis dan praktik, tetapi juga tes psikologi.

Budiyanto, pemerhati masalah transportasi, mendukung dan mendorong adanya tes psikologi dilakukan di tempat lain. Sebab, psikologis pengemudi berkaitan dengan kesalahan faktor manusia penyebab kecelakaan.

Baca juga: Ini Alasannya Kenapa Bikin SIM Perlu Ada Tes Psikologi

"Beberapa faktor penyebab kecelakaan dan pelanggaran lalu lintas adalah faktor manusia adalah human error. Tentunya ini berhubungan dengan sifat dasar seperti perilaku, kecerdasan, pengendalian emosi, dan moralitas. Hal seperti ini hanya dapat diukur dan ditelusuri dari aspek psikologis," kata Budiyanto, Senin (17/2/2020).

Yamaha Mio Z sedang dipakai untuk ujian SIM C di Kantor Dinas Sosial Jakarta Timur, (31/3/2016).Yamaha DDS Yamaha Mio Z sedang dipakai untuk ujian SIM C di Kantor Dinas Sosial Jakarta Timur, (31/3/2016).

Mantan Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya ini mengatakan, dengan tes psikologi, diharapkan setiap individu yang mendapatkan SIM memiliki kompetensi yang memadai dari aspek-aspek psikologis termasuk kemampuan lain yang dipersyaratkan dalam undang-undang.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Ini Biaya Resmi Bikin Baru dan Perpanjangan SIM

"Situasi seperti ini akan berdampak pada menurunnya tingkat pelanggaran lalu lintas, dan sekaligus secara paralel dapat menekan kejadian kecelakaan lalu lintas," katanya.

Budiyanto yakin, individu yang telah memiliki kompetensi mengendarai kendaraan bermotor melalui proses yang benar, terutama dari aspek psikologis, akan mampu membangun keseimbangan antara hak dan kewajiban sebagai warga negara.

"Dengan argumentasi tersebut, saya menyarankan agar tes psikologi sebagai salah satu prasyarat untuk mendapatkan SIM, bidang kesehatan perlu didorong untuk dilaksanakan," katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.