Pasang Polisi Tidur Harus Sesuai Standar Agar Tak Bikin Celaka

Kompas.com - 22/12/2019, 14:01 WIB
Ilustrasi polisi tidur sesuai ketentuan barcoproducts.comIlustrasi polisi tidur sesuai ketentuan
|

JAKARTA, KOMPAS.com – Di jalan perumahan sering kita temui polisi tidur atau speed bump, sebuah sarana agar pengendara tidak melaju dengan kecepatan tinggi.

Namun yang jadi masalah, polisi tidur kerap dibangun tanpa memperhatikan peraturan. Biasanya cukup bermodalkan semen, batu bata, atau kayu sekalipun, masyarakat bisa membuat speed bump di area perumahan.

Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno, menyebutkan aturan pembuatan polisi tidur telah tercantum dalam Peraturan Menteri Perhubungan RI Nomor 82 Tahun 2018 tentang Alat Pengendali dan Pengaman Pengguna Jalan.

Baca juga: Dishub DKI Akan Bongkar Polisi Tidur yang Tak Sesuai Spesifikasi

Alat pembatas kecepatan alias polisi tidur yang dibuat tanpa aturan resmi kadang malah bikin kecelakaan.Febri Ardani/KompasOtomotif Alat pembatas kecepatan alias polisi tidur yang dibuat tanpa aturan resmi kadang malah bikin kecelakaan.

Polisi tidur untuk mengingatkan pengemudi untuk tidak memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi, bukan untuk mencelakakan,” ujarnya kepada Kompas.com (22/12/2019).

Lewat aturan tersebut, telah diatur bahwa polisi tidur merupakan alat pengendali kecepatan di jalan dengan batas tinggi dan lebar yang telah ditentukan.

Posisi alat pembatas kecepatan ini diposisikan melintang terhadap badan jalan, dan juga memiliki sudut kelandaian atau kemiringan tertentu.

Baca juga: Catat! Jangan Asal Buat Polisi Tidur, Ini Aturannya

Aturan membuat polisi tidurKemenhub Aturan membuat polisi tidur

Djoko menyarankan warga masyarakat untuk menggunakan jenis polisi tidur sesuai standar. Ia juga mengatakan, jenis polisi tidur ini telah dijual di pasaran. Sehingga masyarakat sebetulnya tinggal membeli dan memasang saja.

“Sekarang sudah ada yang bentuk jadi, tidak perlu mengira-ngira lagi. Terbuat dari bahan karet, dan banyak tersedia di toko-toko seperti di Glodok, tinggi maksimal 12 cm,” kata Djoko.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X