Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 18/09/2019, 16:42 WIB
Penulis Stanly Ravel
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Beberapa insiden kecelakaan lalu lintas belakangan ini erat kaitannya dengan masalah pecah ban. Bahkan dari peristiwa tersebut banyak persepsi yang berkembangan, salah satunya seperti anggapan ban yang kadaluwarsa.

Terkait hal ini, On Vehicle Test PT Gajah Tunggal Tbk, Zulpata Zainal, kembali menegaskan bila sebenarnya ban kendaraan tidak memiliki masa kedaluwarsa, baik untuk sepeda motor mapun mobil.

Ban itu bukan seperti makanan yang punya kedaluwarsa, jadi tidak bisa disamakan. Proses pembuatan ban itu dari bahan mentah atau material dasar karet alam dan sintetisnya serta puluhan komponen benar-benar matang, jadi tidak bisa basi," kata Zulpata kepada Kompas.com, Selasa (17/9/2019).

Baca juga: Mitos atau Fakta, Semir Bikin Dinding Ban Kering

Ilustrasi pecah ban: Kecelakaan tunggal di Tol Jagorawi, Minggu (15/9/2019), karena mobil mengalami pecah ban.Shutterstock Ilustrasi pecah ban: Kecelakaan tunggal di Tol Jagorawi, Minggu (15/9/2019), karena mobil mengalami pecah ban.

Terkait soal angka-angka pada dinding ban, menurut Zul itu buka merujuk pada periode waktu yang menandakan masa pakai dari ban, melainkan sebuah kode produksi dari pembuatan ban itu sendiri.

Kode produksi tersebut terkait beragam hal, seperti dibuat pada minggu ke berapa dan pada tahun berapa. Hal ini berguna bagi perusahaa untuk melakukan pelacakan bila terjadi sesuatu, seperti cacat produksi dan lain sebagainya.

Namun demikian, Zulpata tak memungkiri bila ban meskipun dalam kondisi baru juga bisa rusak. Faktornya bisa dikarenakan beragam hal, mulai dari cara menyimpan yang tidak benar sampai masalah eksternal lainnya.

Baca juga: Benarkah Jalan Beton Bikin Ban Gampang Aus?

kode banStanly/Otomania kode ban

Pengerasan pada karet ban juga terjadi setelah tiga tahun pemakaian. Tapi hal ini dianggap wajar karena ban terpakai dan terus-menerus terkena friksi yang membuat suhu ban berubah-ubah.

"Kalau digunakan lalu karetnya keras itu wajar, karena ada perubahan suhu, tapi jangan dianggap kedaluwarsa, itu tidak benar. Ditekankan lagi, yang paling penting itu masalah perawatan dan pemakaian, selama itu dilakukan usia ban bisa lebih optimal," ujar Zulpata.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.