Pemerintah Bentuk “Complain Care” untuk Solar B20

Kompas.com - 07/09/2018, 17:02 WIB
Penggunaan Biosolar B20 di SPBU Pertamina Dok. PertaminaPenggunaan Biosolar B20 di SPBU Pertamina

JAKARTA, KOMPAS.com – Mandatori perluasan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) solar dengan campuran 20 persen minyak nabati (sawit) atau Biosolar 20 (B20), resmi berjalan. Kali ini jenis BBM tersebut juga bisa dipakai buat kendaraan non public service obligation (PSO) atau tak bersubsidi.

Terkait dengan kelanjutan kebijakan tersebut, Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Ditjen ILMATE Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika mengatakan, Kemenko Perekonomian sudah menyediakan line pengaduan.

“Jadi memang kemarin sudah di launching dan sebenarnya sudah ada rapat bagaimana membuat sesuatu seperti complain care,” ujar Putu, Rabu (5/9/2018).

“Sekarang kalau ada masalah nanti dilaporkan ke mana dan penanggulangannya seperti apa, pembuat SOP juga. Inisiatornya Kemenko Perekonomian, jadi segala sesuatunya ada di sana, dan lihat perkembangannya,” ujar Putu.

Call Center pengaduan soal B20.KOMPAS.com / GHULAM M NAYAZRI Call Center pengaduan soal B20.
Memang tak bisa dipungkiri, pada masa-masa awal masih ada respons miring soal pemberlakuan tersebut, khususnya para pelaku usaha yang aramadanya terpaksa menggunakan B20. Beragam alasannya mulai dari ketersediaan dan efeknya pada komponen mobil.

Baca juga: Truk dan Bus Hino Tak Masalah Pakai Solar B20

Impor Migas Berlebih

Menteri Keuangan Sri Mulyani, mengatakan, kebijakan soal B20 ini memang salah satu cara yang diambil pemerintah, buat mengurangi impor migas atau mengerem devisa yang keluar dari Indonesia, sehingga defisit dalam transaksi berjalan bisa ditekan.

“Kita juga harus mengendalikan devisa keluar, soal impor tadi. Pak Menko sudah meluncurkan B20. Devisa yang sebelumnya keluar untuk impor migas, kini dikonversi untuk penggunaan CPO, nanti kita akn teliti kemajuannya, bagaimana penggunaan B20 dalam rangkap penghematan devisa sekitar 2,3 miliar dollar Amerika,” kata Sri Mulyani.

“Pasalnya migas merupakan salah satu komopditas yang menymbang defisit di dalam transaksi berjalan. Impor migas kita dibanding ekspor lebih besar impornya, maka kita melakukan tindakan sperti B20 ini,” kata Sri Mulyani.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X