Plus-Minus Mesin Injeksi dan Karburator buat Balapan

Kompas.com - 19/03/2018, 18:22 WIB
Deretan motor balap yang digunakan Astra Racing Motor Team (ART) untuk kejuaran balap nasional, dari kelas sport 250cc hingga bebek 110cc. Kompas.com/Alsadad RudiDeretan motor balap yang digunakan Astra Racing Motor Team (ART) untuk kejuaran balap nasional, dari kelas sport 250cc hingga bebek 110cc.
Penulis Alsadad Rudi
|

Jakarta, KOMPAS.com - Penggunaan teknologi injeksi kini tidak hanya diterapkan pada sepeda motor harian, tapi juga di ajang balap. Contohnya di ajang balap road race.

Beberapa tahun lalu, tim-tim balap nasional masih sangat tergantung dengan motor karburator. Namun kini bebek-bebek balap yang dipakai di ajang balap "pasar senggol" hampir semuanya sudah menggunakan teknologi injeksi.

Baca juga : Motor Bekas Versi Karburator Masih Diminati

Sebagai salah satu mekanik balap berpengalaman di Tanah Air, Benny Djati Utomo sudah pernah mencicipi bagaimana rasanya membangun motor balap dengan sistem karburator dan injeksi. Pria yang kini menjabat sebagai Team Advisor Astra Motor Racing Team (ART) ini menilai, membangun motor balap sebenarnya lebih mudah dengan sistem karburator.

AHM kembali selenggarakan Honda Dream Cup (HDC) 2017.Istimewa AHM kembali selenggarakan Honda Dream Cup (HDC) 2017.

Pasalnya, kata Benny, kerja mekanik lebih mudah karena karakter karburator yang cenderung pasif. Pada sistem karburator, suplai bahan bakar ke ruang pembakaran disedot dari hasil pergerakan naik-turun piston. Jadi berapa volume bensin yang dikeluarkan, tergantung dari pergerakan piston tersebut.

Pada motor karburator, settingan banyaknya bensin dan udara yang menuju ruang bakar tergantung dari diameter lubang karburator, besarnya pilot jet dan main jet, serta baut setelan angin dan bensin.

Baca juga : Meski CRF150L Injeksi, KLX Tetap Setia Pakai Karburator

"Jadi lebih gampang karburator. Karburator kan alat pasif ya. Jadi asupan bahan bakar tergantung vacumnya mesin, hisapan mesin dari penyetingan sebelumnya," kata Benny saat ditemui Kompas.com, di Jakarta, Selasa (13/3/2018).

Produk karburator aftermarket milik TDR.Ghulam/Otomania Produk karburator aftermarket milik TDR.

Sementara itu, Benny menilai karakter injeksi lebih aktif. Pada sistem injeksi, proses penghisapan bensin ke ruang bakar menggunakan peranti elektronik yang berfungsi menyemprotkan bensin ke ruang pembakaran.

Sistem injeksi dinilai bisa menyeimbangkan volume bensin yang disemprotkan ke ruang bakar dengan kebutuhan mesin. Sehingga bisa mendapatkan hasil pembakaran yang efisien. Namun dampaknya, ketelitian mekanik sangat diuji di sini.

Baca juga : Keunggulan Motor Sistem Injeksi Saat Berpetualang

Alat pengukur air fuel ratio (AFR) dalam ruang bakar sepeda motor injeksi.Ghulam/Otomania Alat pengukur air fuel ratio (AFR) dalam ruang bakar sepeda motor injeksi.

"Karena injeksi ini alat aktif, jadi betul-betul mekanik yang membuat sistemnya. Kalau hitung-hitungan angkanya salah, untuk sekedar menghidupkan mesin akan susah," ujar Benny.

Menurut Benny, tiap mekanik memang punya selera pilihan yang berbeda-beda. Namun dengan kondisi yang ada saat ini, ia menilai sudah seharusnya semua motor balap menggunakan sistem injeksi.

Baca juga : Semua Sepeda Motor Akan Injeksi pada Waktunya

"Karena segala kekurangan karburator dalam menyuplai bahan bakar ke mesin sudah bisa diatasi injeksi," pungkasnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X