Kompas.com - 31/01/2018, 11:25 WIB
Sebuah Suzuki Thunder 125 bergaya retro hasil modifikasi bengkel custom Clacustique. Bengkel Custom ClacustiqueSebuah Suzuki Thunder 125 bergaya retro hasil modifikasi bengkel custom Clacustique.
|
EditorAzwar Ferdian

Jakarta, KOMPAS.com - Sebagai salah satu kelas dari sepeda motor modifikasi, genre custom culture retro atau klasik dinilai masih cukup menjanjikan, untuk jangka waktu yang panjang di pasar otomotif nasional. Ini mendorong sejumlah bengkel modifikasi ikut bermain di segmen tersebut dan bermunculan dalam beberapa tahun belakangan.

Salah satunya adalah bengkel spesialis modifikasi custom culture retro atau classic Street Art Custom yang bermarkas di Jalan Kampung Parung Serap Nomor 68, Tirtajaya, Kota Depok, Jawa Barat. 

Arie Indra Perkasa, pemilik bengkel tersebut menjelaskan, tingginya potensi pasar motor retro dapat dilihat dari beberapa faktor. Di antaranya adalah produsen motor yang sudah dikenal luas oleh masyarakat ikut bermain pada segmen ini.

Baca juga : Scrambler Ducati Mach 2.0, Kental Nuansa Retro

Misalnya, Kawasaki yang pada November 2017 lalu meluncurkan motor retro untuk kelas low entry, yakni W 175 atau Ducati yang sudah bermain lebih dahulu dengan meluncurkan Ducati Scrambler. Bahkan, Royal Enfield berani membuka cabang penjualan di Indonesia.

"Pabrikan besar tentu sudah melakukan riset dan memutuskan mengeluarkan produk. Berdasarkan riset-riset pabrikan besar itu, maka apa mungkin mereka buat produk hanya untuk bertahan setahun atau dua tahun? pasti tidak," kata Arie saat ditemui di bengkelnya, Selasa (30/1/2018).

Punya tampang retro dengan lampu bulat dan cover layaknya motor jadul.Suzuki/KompasOtomotif Punya tampang retro dengan lampu bulat dan cover layaknya motor jadul.
Menurut Arie, pangsa pasar untuk kelas retro atau klasik memang tak sebesar motor skutik atau sport. Mungkin, jumlahnya hanya sekitar 10 persen.

Namun dari 10 persen itu saja sejumlah bengkel modifikasi masih kebanjiran order. Misalnya, kata Arie, di bengkel miliknya saja sudah ada beberapa calon pelanggan yang masuk daftar tunggu agar motornya dimodifikasi.

Oleh karena itu, dalam kondisi saat ini sudah banyak bengkel modifikasi custom culture saja orderan tetap "mengalir". Sebab, permintaan (demandnya) banyak.

Baca juga : Kawasaki Mau Jadi yang Pertama di Segmen Retro

Ditemui terpisah, pemilik bengkel modifikasi Diens Bike, Anas Choirudin mengatakan,  pihaknya hanya bisa menyelesaikan sekitar 3 atau 4 motor modifikasi dalam rentan waktu satu bulan.

Tak jarang, dirinya memberikan opsi menunggu hingga beberapa waktu ke depan kepada para calon pelanggannya. Jika tidak ingin menunggu, diriinya pun merekomendasikan calon pelanggan tersebut agar mendatangi bengkel lain.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.