Jokowi Harus Adil kepada Pelaku Industri Otomotif

Kompas.com - 09/02/2015, 17:00 WIB
Presiden Jokowi dan Chairman Proton Mahathir Mohammad saat berkunjung di pabrik Proton seperti foto yang dimuat di Bernama.com (5/2/2014). Bernama.comPresiden Jokowi dan Chairman Proton Mahathir Mohammad saat berkunjung di pabrik Proton seperti foto yang dimuat di Bernama.com (5/2/2014).
|
EditorAzwar Ferdian

Jakarta, KompasOtomotif – Isu mobil nasional (mobnas) kembali mencuat belakangan ini setelah memorandum of understanding (MoU) perusahaan Indonesia (PT Adiperkasa Citra Lestari)  – Malaysia (Proton Holdings Bhd) yang disaksikan Presiden Republik Indonesia Jokowi Widodo telah dilakukan pekan lalu.

Tanggapan tentang mobnas muncul dari berbagai kalangan, salah satunya dari perusahaan otomotif besar di Indonesia, PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) sebagai pemegang merek Mitsubishi di Indonesia.

“Saya tidak mengetahui secara detail mengenai program mobnas kali ini, mungkin masih wacana atau sudah confirm. Tapi intinya memang pertumbuhan otomotif di indonesia itu menunjukkan tren tumbuh terus sehingga peluang untuk bisnis ini akan berkembang,” kata Duljatmono, Operating General Manager of Mitsubishi Motor Corp (MMC ) Marketing Division KTB di Jakarta, Senin (9/2/2015).

Momon lanjut mengatakan terlalu dini mengomentari mobnas sebab belum ada detail tentang regulasi pemerintah, insentif, dan metode investasi. Meski begitu wacana mobnas dianggap bukan masalah, sebab hal itu dinilai wajar dalam kompetisi bisnis otomotif.

Namun yang ditekankan adalah fasilitas dan perlakuan adil buat pemain industri otomotif. “Selama itu fair treatment tidak ada masalah, (industri) tumbuh dan memang peluangnya terbuka. Tapi bila ada perbedaan fasilitas maka kita harus mempertimbangkan itu, kami harus memikirkan tentang itu, kami perlu mempelajari,” ungkap pria yang akrab dipanggil Momon ini.

Indonesia butuh mobnas?

Pertanyaan itu sulit dijawab Momon, hanya saja ia menjelaskan pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi negeri yang kuat dari berbagai aspek adalah hal terpenting. “Kalau (mobnas) bisa memberikan kontribusi untuk negara ini saya kira kita tidak ada masalah, sebagai warga negara tidak boleh menghambat itu,” terang Momon.

Pemerintah dikatakan pasti punya pertimbangan khusus memilih sumber daya dari negara tetangga Malaysia, meski juga disebutkan sudah menilai sumber daya dalam negeri. “Kita mendukung prorgam terhadap industri otomotif itu, ok saja, tidak ada masalah,” tukas Momon.

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X