Kompas.com - 13/01/2015, 12:28 WIB
|
EditorAris F Harvenda

Jakarta, KompasOtomotif — Musim hujan yang diprediksi masih panjang seharusnya membuat pengendara sepeda motor semakin mempersiapkan diri. Namun masalahnya, banyak di antara mereka yang masih terjebak dalam kebiasaan yang salah kaprah.

Menurut Sony Susmana, Instruktur Senior Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), pengendara sepeda motor di Indonesia kebanyakan ”ala kadarnya”. ”Banyak yang salah kaprah, terutama soal perlengkapan berkendara, tapi diteruskan,” urai Sony kepada KompasOtomotif, Senin (12/1/2015).

Berdasarkan penjelasan Sony, dikombinasikan dengan data dari berbagai sumber, berikut beberapa hal salah kaprah yang masih banyak dilakukan biker saat musim hujan:

1. Jaket hujan warna gelap laku keras. Salah kaprah yang keterusan sampai sekarang. Kebanyakan biker malu pakai warna terang. Padahal, semakin ngejreng semakin baik. ”Minimal 30 persen bagian punggung bisa memantulkan cahaya. Jaket hujan sekarang kebanyakan cuma ada beberapa setrip yang memantul, itu kurang. Percayalah, warna mencolok sangat berpengaruh mempermudah untuk dilihat,” beber Sony.

2. Mantel hujan berbentuk one-piece. Meski sudah banyak pengarahan, tetap saja mantel jenis ini dijual dan ada pembeli. Ujung mantel, dikatakan Sony, sangat rawan terbelit jeruji ban atau rantai, atau bahkan tersangkut ke pengendara lain.

3. Tidak siap dengan sepatu. Memakai sandal yang dibilang praktis saat hujan justru berbahaya. Tidak ada perlindungan untuk kaki saat terjadi kecelakaan. Parahnya, banyak orang yang mengikat sepatu dengan kantong plastik yang justru membuat bagian tapak menjadi licin.

Ada juga yang tetap memakai sepatu kulit, tapi kalau ada cipratan air mengangkat kaki. Ini memengaruhi keseimbangan.

4. Mengganti warna lampu. Warna lampu-lampu sudah diesuaikan dengan standar keselamatan. Demikian juga warna lampu depan yang kekuningan, terbukti lebih mampu menembus saat hujan lebat ketimbang lampu HID warna putih kebiruan.

5. Mengurangi tekanan ban. Banyak anggapan salah, tekanan berkurang, traksi lebih baik karena banyak permukaan ban yang menempel ke aspal. Faktanya, pattern atau pola kembangan untuk memecah air malah tidak berfungsi baik karena tekanan angin yang kurang.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.