Rabu, 30 Juli 2014

Otomotif


Terancam, Nasib Kendaraan Pribadi Berbahan Bakar Solar

Penulis: Agung Kurniawan | Kamis, 09 Desember 2010 | 09:21 WIB
|
Share:
Sumber : - | Author : KOMPAS.com/Zulkifli BJ

Minibus Panther terancam kehilangan peminat karena harga solar jadi sangat mahal

JAKARTA, KOMPAS.com — Dampak rencana pemerintah dalam membatasi konsumsi BBM bersubsidi (premium dan solar) akan dirasakan tahun depan. Tak hanya mobil pribadi yang “meneguk” premium, dampak tersebut juga terasa bagi pemilik kendaraan bermesin diesel atau solar yang selama ini mengandalkan biaya operasional yang irit (selain karena harga bahan bakar, juga mesin yang efisien).

Dengan adanya pembatasan, mobil pribadi yang selama ini menggunakan solar bersubsidi harus beralih ke Pertamina Dex. Hal tersebut akan menimbulkan masalah baru karena sampai kini Pertamina masih belum serius memasarkan produk solar diesel yang tidak disubsidi itu ke semua jaringan SPBU di Indonesia.

Bahkan, SPBU dengan Pertamina Dex di Jakarta—sebagai pusat pemerintahan sekaligus perekonomian negara—bisa dihitung menggunakan jari tangan. Parahnya lagi, di beberapa SPBU, penjualannya menggunakan jeriken 10 dan 20 liter.

Salah satu produsen dan merek yang terancam adalah Isuzu. Produsen tersebut selama ini mengandalkan mesin diesel, terutama untuk Panther. Padahal saat ini, untuk segmen kendaraan penumpang, Panther satu-satunya andalan Isuzu di Indonesia. Sisanya adalah kendaraan komersial.

"Memang sangat mengancam. Pasalnya, kalau bensin, jenjangnya bertahap, dari Premium ke Pertamax dan Pertamax Plus. Untuk solar, langsung ke Pertamina Dex dengan harga setara Pertamax Plus," ujar Chief Executive Officer (CEO) PT Astra International Tbk-Isuzu Sales Operation Supranoto Tirtodiprodjo kepada Kompas.com ketika dimintai komentar tentang rencana pemerintah membatasi solar bersubsidi untuk kendaraan pribadi, Rabu (8/12/2010).

Harga solar subsidi Rp 4.500 per liter, sedangkan Pertamina Dex Rp 7.200 per liter. Akibatnya, biaya operasional pengguna mobil diesel makin tinggi dan akan menurunkan minat pembeli.

Supranoto menambahkan, mobil bermesin diesel mayoritas digunakan untuk kegiatan produktif karena lebih ekonomis. "Kalau solar naik, dipastikan biaya produksi sejumlah usaha naik. Kami harap pemerintah bisa mempertimbangkannya lagi (pembatasan solar)," harapnya.

Isuzu merupakan satu-satunya produsen yang masih memproduksi minibus bermesin diesel konvensional. Merek lain, seperti Toyota (Kijang) dan Mitsubishi (Kuda), sudah menghentikannya. Kalaupun masih ada, kendaraan pribadi yang menggunakan mesin diesel terbatas pada SUV dan pikap (kabin ganda atau tunggal) dengan teknologi common rail yang memang dirancang untuk mengonsumsi solar dengan kadar sulfur lebih rendah, yaitu Pertamina Dex.


Editor : Zulkifli BJ