Kamis, 18 Desember 2014

Otomotif


Harga Mobil Siap-siap Naik

Penulis: Bastian | Kamis, 24 Juni 2010 | 09:34 WIB
|
Share:
Sumber : - | Author : KOMPAS.com

JAKARTA, KOMPAS,com — Harga mobil siap-siap mau naik lagi. Bukan karena jelang Lebaran atau penerapan pajak, melainkan akibat lonjakan harga baja dari pemasok utama industri otomotif nasional dari Jepang.

Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Sudirman Maman Rusdi mengatakan, rencana kenaikan harga baja pada tahun ini sudah resmi. Hingga kuartal I, harga baja impor masih 660-710 dollar AS per metrik ton.

"Kenaikan sudah dipastikan bakal terjadi pada kuartal II tahun ini sebesar 60 dollar AS per metrik ton dan terus berlanjut di kuartal III mencapai 90 dollar AS per metrik ton. Ini pasti akan menambah ongkos produksi," ujar Sudirman saat dihubungi Kompas.com, kemarin malam.

Hingga kini, industri otomotif di Indonesia masih mengimpor baja jenis canai panas (hot rolled coils/HRC) dan canai dingin (cold rolled coils/CRC) dari Jepang dan Korea Selatan. Para pemasok telah mengonfirmasi soal kenaikan untuk pengiriman Juli-Agustus-September (kuartal III).

Sudirman menambahkan, pengaruh kenaikan ongkos produksi sudah pasti, tetapi tak lebih dari 10 persen. Komposisi bahan baku pada total ongkos produksi sekitar 40 persen. Kondisi ini, lanjutnya, berpotensi berpengaruh pada harga jual kendaraan.

"Namun, semua ini juga dipengaruhi penguatan nilai mata uang rupiah terhadap dollar AS. Jadi, sampai kuartal pertama, rasanya kenaikan masih bisa diserap produsen," jelas Sudirman.

Di pihak lain, Mukiat Sutikno, Direktur Pelaksana PT General Motors Autoworld Indonesia (GMAI), menambahkan, kenaikan harga baja makin lama tak akan terhindari. Situasi ini pasti akan berdampak pada komposisi harga.

Belum aman Saat ini para pabrikan otomotif masih menggunakan bahan baku harga lama dengan kontrak pengiriman sampai April sehingga beban kenaikan harga komoditas baru mulai dirasakan pada periode pertengahan Juni-Juli.

Sudirman yang juga Wakil Direktur Utama PT Astra Daihatsu Motor melanjutkan, sekarang, kekuatan penyerapan juga akan bergantung pada seberapa besar stok baja yang dimiliki setiap produsen. Makin banyak yang tersedia, makin lama juga kenaikan bisa ditunda.

"Di otomotif, kenaikan harga mobil merupakan hal sensitif sehingga produsen akan menempuh jalan terakhir ini jika kondisi memang tak bisa dihindari. Tetapi, kalau melihat pasar belum bisa menyerap kenaikan, margin perusahaan yang akan dikorbankan," tambah Sudirman.


Editor : Bastian