Sabtu, 26 Juli 2014

Otomotif


Perawatan Kopling Diafragma Honda Blade

Penulis: | Selasa, 26 Mei 2009 | 05:45 WIB
|
Share:
  • Sumber : - | Author : MOTOR PLUS/AONG, BELO

    Cara merawat sama dengan kampas kopling per spiral

  • Sumber : - | Author : MOTOR PLUS/AONG,BELO

    Bisa dimodifikasi pakai rumah kopling Honda Karisma tau Supra X 125

  • Sumber : - | Author : MOTOR PLUS/AONG,BELO

    Kerja per kopling sistem diafragma lebih halus

KOMPAS.com — Buat pemilik Honda Blade, Revo 110, dan Yamaha Vega ZR, sebagai informasi, kopling pegas diafragma bukan pakai per spiral seperti terlihat pada rumah kopling generasi sebelumnya. Namun, pegas itu dari lempengan pelat baja dengan bentuk lingkar dalam melengkung.

Boleh dibilang, teknologi ini masuk kategori lawas dan dipopulerkan kembali oleh dua merek sekaligus. Hanya, ada anggapan kalau kopling model per diafragma kurang kuat dan susah perawatannya, bahkan untuk mencari per aftermarket atau ingin meningkatkan performa, hal itu termasuk paling sulit.

"Kalau soal perawatan, baik kopling per spiral, maupun diafragma sama saja caranya sebab kemampuannya tergantung dari ketebalan dan kinerja kampas dan pelat kopling itu sendiri," ungkap Haryadi Wijaya, Technical Support Division PT Astra Honda Motor (AHM).

Akan tetapi, kalau dibilang tidak kuat dibanding per spiral, menurut Haryadi, hal itu salah. Justru, menggunakan per diafragma, daya cengkeram kampas dengan pelat kopling makin sempurna. Hal ini karena pegas mirip piring kecil, lebih halus dan rata menekan dibanding hanya bertumpu pada bagian ke-4 dan ke-6 per spiral.

Selain itu, kopling sistem ini mampu mengurangi gesek dan memperingan putaran kopling karena kampas hanya tiga lembar sehingga tidak menimbulkan banyak gejala selip. Wajar bila sistem diafragma lebih smooth karena karet peredam entakan yang dipasang antara gigi sekunder dan rumah kopling lebih banyak.

"Otomatis, pakai kopling sistem ini bukan cuma harga motor dan part yang jadi murah. Daya tahan kampas dan pelat kopling pun jauh lebih awet dibanding per kopling spiral," imbuh Haryadi.

Walau tahan lebih lama, untuk mengetahui, apakah kemampuan kampas dan pelat sudah mulai turun, caranya tidak jauh beda. Diukur dengan menggunakan sigmat atau merasakan turunnya tenaga motor saat jalan.

Namun, sebelum memvonis itu, ada baiknya lakukan seting ulang stut kopling. Setelannya ada di bak kopling. Caranya, sama dengan bebek pakai per spiral.

Cukup kendurkan mur pengunci baut setelah kopling pakai kunci ring 14 ke kiri. Terus putar baut penyetel ke kanan (searah jarum jam) hingga terasa ada sentuhan. Lalu, putar kembali ke kiri hingga mentok sampai terasa dan berhenti. Baru, putar kembali baut penyetel ke kanan sebanyak 1/4-1/8 putaran dan kencangkan mur pengunci.

"Andai baut penyetel sudah di-setting sesuai petunjuk, tetapi tidak ada perubahan, artinya pegas diafragma mulai lemah dan sudah waktunya diganti," ujar Haryadi. (Eka)


Editor :