Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Luhut Sebut AS Butuh Indonesia Soal Kendaraan Listrik

Kompas.com - 21/06/2024, 18:41 WIB
Ruly Kurniawan,
Azwar Ferdian

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan bahwa Indonesia memiliki peran penting dalam kemajuan ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dunia.

Pasalnya, berbagai negara saat ini khususnya Amerika Serikat (AS) berencana meningkatkan populasi kendaraan ramah lingkungan berbasis baterai. Bahkan, sampai 11 kali lipat di 2030 mendatang.

Demi mencapai target tersebut, tentu dibutuhkan sumber pemasok bahan baku yang sangat besar. Sementara Indonesia memiliki faktor dimaksud, sehingga membuat Tanah Air mempunyai peranan penting.

Baca juga: Perbedaan antara Helm Half Face, Full Face, dan Modular

Ilustrasi kendaraan listrik, mobil listrik. SHUTTERSTOCK/HALFPOINT Ilustrasi kendaraan listrik, mobil listrik.

“Saya katakan, tidak mungkin kalian (Amerika Serikat) bisa meningkatkan (EV) 11 kali dari apa yang ada sekarang tanpa Indonesia. Karena Indonesia mengontrol, mungkin lebih dari 70 persen daripada nikel ore dunia,” kata Luhut dikutip Jumat (21/6/2024).

AS disebut butuh untuk bekerja sama dengan negara lain untuk menambah jumlah mobil listrik, karena teknologi smelter atau fasilitas pengolahan hasil tambang yang dimiliki sudah usang.

Dibandingkan dengan China, teknologi smelter AS bahkan sudah tertinggal sembilan tahun.

“Terlepas daripada uang, dari segi teknologi, kalian (AS) ketinggalan sembilan tahun, dan ini diakui oleh Tesla,” ucapnya.

Luhut menyebut, saat ini Amerika Serikat mulai menerapkan kebijakan Inflation Reduction Act (IRA) yang akan berpengaruh pada perlakuan diskriminatif yang didapatkan produksi nikel Indonesia di mata dunia.

Meski demikian, sebagai negara yang memasok sebagian besar pasokan nikel dunia, ia yakin Indonesia memiliki peran penting dalam perkembangan ekosistem EV dunia.

Oleh karena itu, dirinya berulang kali menegaskan bahwa Indonesia memiliki pendirian dan tidak dapat diatur oleh negara mana pun.

Baca juga: Jangan Tertipu, Kenali Ciri-ciri Busi Palsu yang Beredar di Pasaran

Ilustrasi kendaraan listrik atau electric vehivle (EV). Dok. Freepik Ilustrasi kendaraan listrik atau electric vehivle (EV).

“Kita harus ofensif juga kepada mereka (AS), katakan, 'hei, kita ini bukan negara yang kau bisa atur-atur saja. Kita (Indonesia) juga punya pendirian karena kita harus survive',” tegasnya.

Indonesia sebagai pemasok nikel menjajaki kerja sama dengan berbagai negara. Kerja sama paling potensial adalah dengan China.

Saat mengunjungi China beberapa waktu lalu, Luhut menyoroti proyek antara Contemporary Brunp Lygend Co Ltd (CBL) dengan Indonesia Battery Corporation (IBC) di Buli, Maluku Utara.

"Saya harap NDRC (National Development and Reform Commission China) dapat mendukung kerja sama antara CBL dan IBC untuk produksi battery materials dan proyek battery recycling di kawasan industri Buli, Maluku Utara,” kata dia.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com