Sopir Bus Harus Tahu Teknik Jaga Jarak Aman yang Benar

Kompas.com - 15/06/2022, 14:12 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Aksi bus yang menempel ketat kendaraan di ddepannya saat ini sering terjadi di jalan tol. Bahkan kelakuan pengemudi yang berbahaya tersebut kerap direkam dan diunggah ke media sosial.

Kelakuan berbahaya tadi sebenarnya sangat berisiko kecelakaan tabrak belakang. Mengingat ketika ada kendaraan di depannya rem mendadak, bus sangat rawan menabrak mobil yang menghalangi.

Jaga jarak aman untuk kendaraan kecil biasanya bisa dihitung dengan rumus tiga detik. Jadi hitung berapa jarak mobil dengan kendaraan di depannya punya selisih waktu tiga detik.

Baca juga: Bukan Cuma Teknik, Sopir Bus Harus Mengemudi dengan Perilaku Baik

TERGULING--Aparat Satlantas Polres Madiun melakukan olah tempat kejadian perkara kecelakaan bus Sugeng Rahayu terguling di ruas jalan  Surabaya-Madiun , Km 155-156,  Desa Jerukgulung,  Kecamatan Balerejo Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Selasa (31/5/2022) siang. KOMPAS.COM/Dokumentasi Polres Madiun TERGULING--Aparat Satlantas Polres Madiun melakukan olah tempat kejadian perkara kecelakaan bus Sugeng Rahayu terguling di ruas jalan Surabaya-Madiun , Km 155-156, Desa Jerukgulung, Kecamatan Balerejo Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Selasa (31/5/2022) siang.

Founder & Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting Jusri Pulubuhu mengatakan, berbeda dengan jaga jarak aman pada mobil biasa yang biasanya minimal 3 detik, kendaraan besar seperti bus harus lebih lama dari itu.

"Dalam norma safety, safe following distance buat bus dan truk dalam kondisi normal yaitu lima sampai delapan detik dengan kendaraan di depan,” ucap Jusri kepada Kompas.com, belum lama ini.

Perlu dicatat, jaga jarak aman lima sampai delapan detik ini jika kondisi normal. Jika hujan, licin, gelap dan sebagainya, itu termasuk kondisi tidak normal dan waktunya harus lebih panjang atau lama.

Baca juga: Hoaks Jalan Tol Becakayu Ambles, Begini Faktanya


“Ketentuan jarak ini dihitung dari perception time pengemudi dan mechanical reaction time. Reaksi mekanikal ditambah bobot kendaraan maka kurang lebih lima sampai delapan detik dalam kondisi ideal,” kata Jusri.

Dimensi bus yang besar serta bobotnya yang berat membuat waktu jaga jarak aman jadi lebih lama dibanding kendaraan kecil. Sehingga saat mengemudikan bus butuh waktu yang lebih panjang untuk melakukan manuver, baik mengerem atau pindah lajur.

“Bus tidak seperti mobil kecil yang bisa seketika reaksi mekanikalnya cepat. Bus membutuhkan waktu yang lama prosesnya,” kata dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.