DFSK Mulai Diterpa Masalah Serius, Puluhan Karyawan Kena PHK

Kompas.com - 21/04/2022, 13:58 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Perjalanan DFSK di Indonesia dimulai sejak peresmian pabrik di Kawasan Industri Modern Cikande pada 28 November 2017. Fasilitas perakitan kendaraan itu diklaim mampu memproduksi hingga 50.000 unit per tahun.

Komitmen membangun pondasi mobilitas yang kuat, ditunjukan oleh DFSK melalui investasi mencapai 150 juta dollar AS untuk pembangunan pabrik di Indonesia.

Bahkan, diproyeksikan juga sebagai basis produksi untuk sejumlah negara di Asia, termasuk produksi kendaraan bermotor berbasis listrik di masa depan.

Baca juga: Hindari Macet Tol Trans Jawa, Pansela Jadi Rute Alternatif Mudik

Berjalan seiring waktu, dengan persaingan yang cukup ketat di industri otomotif nasional, di mana didomionasi pabrikan asal Jepang, DFSK jenama asal China mulai goyang di Indonesia.

Masuk tahun ke lima di pasar otomotif nasional, DFSK mulai dirundung masalah serius. Pabrik mobil PT Sokonindo Automobile atau DFSK Indonesia telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 47 karyawan. Manajemen DFSK Indonesia pun turut bersuara mengenai persolan PHK karyawan.

Ekspor mobil DFSK dari pabrik DFSK di CikandeDok. DFSK Ekspor mobil DFSK dari pabrik DFSK di Cikande

Public Relation dan Media Manager DFSK Achmad Rofiqi mengungkapkan, bahwa langkah yang diambil merupakan keputusan yang sulit, namun sudah sesuai dengan kebijakan perusahaan.
Menurut dia, kebijakan itu memperhitungkan kapasitas produksi dengan jumlah permintaan.

Meski begitu, DFSK mengklaim telah membayarkan pesangon sesuai perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

"Yang perlu disampaikan dalam hal ini adalah, PT Sokonindo Automobile sudah memberikan kompensasi kepada para mantan karyawan yang telah di PHK, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di negara Republik Indonesia, termasuk memberikan kompensasi uang pesangon dan juga THR termasuk ke dalam komponen yang kami berikan kepada mantan karyawan kami," kata Rofiqi belum lama ini.

Bicara mengenai permasalahan ini, tentunya tidak akan terjadi apabila secara performa penjualan baik-baik saja.

Berdasarkan pernyataan Rofiqi juga bahwa terjadi penyesuaian yang artinya permintaan konsumen mulai berkurang, sehingga proses produksi harus ikut disesuaikan, jika tidak maka kerugian semakin besar.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.