Pakai Ambulans Palsu buat Liburan ke Puncak, Ini Ancaman Pidananya

Kompas.com - 12/09/2021, 07:01 WIB

BOGOR, KOMPAS.com - Dalam pelaksanaan sistem lalu lintas ganjil genap di Kabupaten Bogor akhir pekan ini, Satlantas Polres Bogor mengamankan satu unit mobil ambulans palsu.

Dilansir dari Kompas.com, Sabtu (11/9/2021), ambulans ini digunakan untuk menghindari skema ganjil genap dan menerobos antrean pemeriksaan dengan melawan arus, mengandalkan statusnya sebagai kendaraan prioritas.

Kanit Turjawali Satlantas Polres Bogor Ipda Ardian mengungkapkan bahwa ambulans tersebut hanyalah mobil biasa yang dimodifikasi tampilannya seperti ambulans.

"Jadi ambulans yang dikendarai itu enggak sesuai peruntukannya, artinya, ini mobil biasa yang didandani seperti ambulans, ditempeli stiker 'ambulance' di bagian belakang dan nomor telepon gawat darurat," kata Ardian.

Baca juga: Simulasi Kredit Yamaha All New Nmax 155, Cicilan Mulai Rp 1 Jutaan

Petugas di lapangan berhasil mengamankan mobil ambulans palsu tersebut usai melakukan pengecekan. Ardian mengatakan, saat mobil itu diperiksa, di dalam kabinnya minim perlengkapan medis standar.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Jabodetabek Terkini (@jabodetabek.terkini)

Selain itu, pengemudi tidak dapat menunjukkan surat-surat yang menyatakan bahwa kendaraan yang dibawanya merupakan ambulans asli.

Menilik dasar hukum yang berlaku, tindakan menggunakan ambulans palsu berarti menyalahgunakan prioritas kendaraan tertentu yang diatur pada Pasal 134 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Baca juga: IMI Menolak Ikutan Pusaran Formula E

Dengan melawan arus lalu lintas berbekal ambulans jadi-jadian, pengemudi dikenai tindak pidana berlapis karena melanggar lebih dari satu aturan pada undang-undang tersebut.

Pertama adalah Pasal 287 ayat (1) akibat melawan arus lalu lintas, dengan ancaman sanksi berupa kurungan maksimal 2 bulan atau denda paling banyak Rp 500.000.

Selain itu, penyalahgunaan atribut seperti rotator menyalahi Pasal 287 ayat (4) dengan ancaman sanksi kurungan paling lama 1 bulan atau denda paling banyak Rp 250.000.

Lalu Ardian juga mengatakan pengemudi ini turut melanggar pasal 280 mengenai penggunaan nomor polisi yang tidak sesuai.

Sebab STNK yang dimiliki masih menyatakan sebagai kendaraan mini bus biasa, bukan ambulans. Sanksinya yakni kurungan maksimal 2 bulan atau denda paling banyak Rp 500.000.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.